
Anggota Komisi XII DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono saat mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.|Foto : Uc/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta - Keberadaan pembangkit listrik tidak hanya ditujukan untuk menjaga pasokan energi, tetapi juga perlu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Pengelolaan kawasan pembangkit dinilai perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan warga dan pelestarian sumber daya alam.
Anggota Komisi XII DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono meminta program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) terus diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan manfaat ekonomi, penguatan sosial, dan pelestarian lingkungan. Pernyataan ini disampaikan saat mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (18/9/2026) lalu.
“Sebagai wakil rakyat yang mewakili masyarakat Ngebel, pesan saya adalah CSR dan pendekatan kemanusiaan harus terus dilanjutkan,” ujar politisi yang akrab disapa Ibas.
Menurutnya, masyarakat di sekitar kawasan pembangkit perlu merasakan manfaat dari keberadaan infrastruktur energi tersebut. Manfaat itu tidak hanya berupa akses terhadap energi, tetapi juga mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Masyarakat harus merasakan manfaat ekonomi, manfaat sosial, manfaat energi, dan lebih dari itu manfaat lingkungan,” tuturnya saat memberikan keterangan resmi kepada Parlementaria di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Selain pemberdayaan masyarakat, Ibas mengingatkan pentingnya menjaga kawasan sekitar PLTA dari risiko kerusakan lingkungan. Kondisi hutan, tanah, sumber air, dan kawasan penyangga memiliki keterkaitan dengan keberlangsungan operasional pembangkit.
Ia menilai pengelolaan sumber daya air juga perlu menjadi perhatian karena PLTA sangat bergantung pada ketersediaan air. Kondisi lingkungan di sekitar pembangkit harus dijaga agar potensi gangguan seperti longsor dan kerusakan daerah aliran air dapat diantisipasi.
“Pengelolaan sumber daya air dan peremajaan di kawasan ini harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai kawasan yang indah dan memiliki potensi untuk menggerakkan PLTA kemudian tidak terkelola dengan baik,” ungkapnya.
Terakhir, Ibas berharap pengelolaan PLTA Ngebel dapat terus menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, keberlanjutan lingkungan, dan kepentingan masyarakat sekitar. Dengan demikian, keberadaan pembangkit tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Ponorogo.
“Semoga teman-teman terus berkomitmen memastikan tenaga energi listrik tersedia sekaligus menjaga kawasan ini tetap hijau dan lestari,” pungkas Politisi Fraksi Partai Demokrat itu. (uc/um)