
Anggota komisi X DPR RI Abdul Fikri dalam agenda Kunjungan Kerja Spesifik meninjau langsung sekolah terdampak bencana di SD Negeri 060950, Medan, Sumatera Utara.|Foto : Bita/Alma
PARLEMENTARIA, Medan – Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menegaskan program revitalisasi sekolah tidak boleh berhenti pada perbaikan bangunan semata. Menurutnya, pemenuhan mebel, komputer, printer, dan berbagai sarana pembelajaran lainnya juga harus menjadi perhatian pemerintah agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal.
Fikri mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menindaklanjuti rekomendasi Komisi X DPR RI dalam mempercepat penanganan sekolah-sekolah terdampak bencana. Menurutnya, sebagian besar dari sekitar 1.130 sekolah terdampak di Sumatera Utara telah memperoleh bantuan sesuai tingkat kerusakannya.
“Terima kasih kepada Kemendikdasmen dan semua pemerintah yang sudah menindaklanjuti rekomendasi dari Komisi X tentang perhatian pemerintah terhadap pelaksanaan pendidikan. Jangan sampai karena ada bencana lantas pendidikan tidak berjalan. Dari 1.130 sekolah yang terdampak bencana memang secara umum sudah disentuh, diberi bantuan, dan direvitalisasi sesuai dengan kondisinya masing-masing,” ujar Politisi Fraksi PKS tersebut Hal tersebut disampaikan Abdul Fikri usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI di SD Negeri 060950 Medan, Sumatera Utara, Jumat (4/9/2026).
Meski demikian, Fikri menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu segera diselesaikan. Salah satunya adalah masih adanya beberapa sekolah yang belum masuk dalam daftar penerima bantuan revitalisasi.
“Tapi dalam pertemuan tadi saja ada lima yang mengajukan bahwa ternyata itu luput dari perhatian pemerintah. Alhamdulillah karena Komisi X membawa juga dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, maka langsung diselesaikan secara administratif. Paling lambat tanggal 10 September ini mudah-mudahan nanti berjalan dengan baik,” katanya.
Selain memastikan seluruh sekolah terdampak memperoleh bantuan, Komisi X juga menyerap berbagai aspirasi dari kepala sekolah dan guru terkait kebutuhan sarana pendukung pembelajaran yang hingga kini masih belum terpenuhi.
“Revitalisasi kan fisik, maksudnya bangunan. Tapi mebel itu juga masih dikeluhkan. Kemudian alat-alat bantuan seperti dari pemerintah, komputer, printer, dan sebagainya masih ada yang rusak. Tadi kita menyerap aspirasi dan sudah semuanya dicatat,” ungkap Fikri.
Menurutnya, keberhasilan program revitalisasi akan lebih optimal apabila dibarengi dengan penyediaan fasilitas belajar yang memadai. Sebab, ruang kelas yang telah diperbaiki tetap membutuhkan dukungan sarana agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan secara maksimal.
Fikri menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skema pendanaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara bertahap. Sebagian akan dibiayai melalui anggaran kementerian terkait, sementara sisanya akan didukung melalui Instruksi Presiden (Inpres).
“Alhamdulillah memang secara bertahap ada yang sebagian dianggarkan di kementerian terkait, dalam hal ini Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek, tapi sebagian juga pakai Inpres,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa secara nasional pemerintah memprioritaskan revitalisasi sekolah di wilayah terdampak bencana. Kunjungan Komisi X ke Medan merupakan bagian dari pengawasan pelaksanaan program tersebut, sementara tim lain melakukan pemantauan di Sumatera Barat.
“Yang prioritas memang daerah bencana dan kita baru satu titik ini di Medan. Rombongan lain ada di Sumatera Barat dan mudah-mudahan juga menggembirakan. Di sini sudah ada komitmen bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meskipun dengan segala kesulitan,” pungkasnya. (bit/aha)