
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko saat meninjau Desa Adat Sade pasca kebakaran di Lombok Tengah, NTB.|Foto: Sari/jk
PARLEMENTARIA, Lombok Tengah – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko mendorong percepatan rekonstruksi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascakebakaran yang melanda kawasan tersebut. Rekonstruksi diharapkan segera dilakukan agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal.
“Yang paling penting adalah segera dilakukan rekonstruksi. Saya tadi tanyakan apakah bisa enam bulan, mereka usahakan tidak sampai enam bulan sudah bisa berdiri lagi sehingga semua kegiatan bisa berjalan dengan baik,” ujar Singgih saat meninjau Desa Adat Sade, Jumat (28/8/2026).
Singgih menekankan, rekonstruksi harus tetap mempertahankan karakter dan konsep tradisional Desa Adat Sade yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, pembangunan kembali perlu mengacu pada konsep awal kawasan dengan tetap melibatkan masyarakat adat dalam proses perencanaan.
“Harapannya, nanti sesuai yang disampaikan kepala dusun, desa ini dibangun lagi sesuai dengan konsep awal. Ini kan turun-temurun. Semua bahan bangunannya akan disesuaikan dengan yang awal,” tuturnya.
Namun, Singgih mengingatkan agar aspek keselamatan tidak diabaikan dalam proses rekonstruksi. Pemerintah pusat dan daerah bersama masyarakat adat perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi kebakaran di kawasan tersebut.
Menurutnya, karakter bangunan tradisional Desa Adat Sade yang menggunakan material mudah terbakar perlu menjadi pertimbangan dalam merancang sistem keselamatan. Penataan instalasi listrik dan penggunaan sumber api juga dinilai perlu diperbaiki untuk meminimalkan risiko kebakaran.
“Rumah ini awalnya memang bangunan lama dan bangunan asli. Kemudian masuk listrik dan lain-lain. Sambungannya atau apa pun itu menyebabkan tidak rapi, sehingga kemungkinan kebakaran sangat besar terjadi,” jelas Singgih.
Karena itu, ia mendorong agar aspek mitigasi menjadi bagian integral dari perencanaan rekonstruksi. Penataan sistem kelistrikan, pencahayaan, hingga penggunaan peralatan memasak perlu dibahas bersama tanpa menghilangkan karakter tradisional kawasan.
“Mitigasi ke depan harus dibahas semuanya. Bangunannya memang akan dikembalikan seperti awal, tetapi soal listrik dan penggunaan minyak atau kompor juga harus dipikirkan karena bahan bangunannya mudah terbakar,” katanya.
Politisi Fraksi Partai Golkar itu menambahkan, pemerintah daerah telah menyampaikan komitmen untuk membangun kembali Desa Adat Sade dengan tetap mempertahankan konsep tradisional. Ia berharap komitmen tersebut segera diwujudkan dengan melibatkan masyarakat adat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan.
Selain pemulihan fisik, Singgih menilai pemulihan ekonomi masyarakat juga harus menjadi bagian dari penanganan pascakebakaran. Pasalnya, sejumlah tempat usaha warga turut terdampak sehingga diperlukan dukungan agar kegiatan ekonomi dapat kembali berjalan.
Untuk itu, ia mendorong keterlibatan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam memberikan bantuan produktif bagi masyarakat yang kehilangan tempat usaha. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu warga kembali menjalankan usaha sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi kawasan.
“Banyak usaha yang terdampak dan beberapa tempat usaha juga terbakar. Insyaallah kita akan melibatkan Baznas supaya memberikan bantuan-bantuan yang produktif agar ekonomi berjalan lagi dan usaha-usaha masyarakat bisa berjalan lagi,” pungkas Singgih. (sai/ssb)