
Anggota Komisi VI DPR RI Askweni.|Foto: Farhan/Mahendra
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI Askweni mendorong Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai salah satu prioritas pembangunan melalui pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.
Menurutnya, persoalan sampah yang terjadi di Batam tidak hanya berdampak pada kebersihan kota, tetapi juga menjadi salah satu penyebab banjir akibat keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA). Ia menilai persoalan tersebut dapat diubah menjadi peluang apabila mampu menarik investasi di sektor pengelolaan sampah.
"Saya mendapat informasi bahwa di Batam itu sekarang ada lebih kurang 30 titik banjir. Tiga puluh titik banjir itu diakibatkan oleh sampah karena lambatnya pengangkutan sampah ke TPA, karena kapasitas TPA-nya yang kurang," ujar Askweni, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI bersama BP Batam dan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026)
Ia menjelaskan, berdasarkan data yang diperolehnya, timbunan sampah di Batam mencapai sekitar 1.300 ton per hari. Jika dikelola menjadi energi listrik, menurutnya, potensi tersebut mampu menghasilkan pasokan listrik yang cukup besar sekaligus menjadi solusi atas persoalan sampah di daerah.
"Data mengatakan sekitar 1.300 ton per hari. Setiap 1.000 ton sampah itu kalau diolah menjadi energi bisa menghasilkan 20 megawatt. Jadi kalau 1.300 ton itu diolah menjadi listrik akan menghasilkan 26 megawatt yang bisa menghidupi sekitar 26.000 rumah atau sekurang-kurangnya 15.000 rumah," katanya.
Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai Batam dapat mencontoh negara-negara yang telah berhasil mengembangkan pengolahan sampah menjadi energi, seperti Singapura. Menurutnya, kehadiran Danantara dan BUMN yang bergerak di sektor pengelolaan sampah juga dapat menjadi momentum untuk menarik investor masuk ke Batam.
"Saya ingin melihat bagaimana sampah di Batam menjadi energi listrik. Bapak bisa produksi sendiri, setiap hari menghasilkan listrik yang bisa menghidupi 20 ribuan rumah dari sampah saja. Nanti kalau ini berjalan, investor ada yang masuk, Bapak bisa kekurangan sampah dan dengan demikian kebersihan, termasuk keindahan dan banjir itu bisa teratasi," ungkapnya.
Selain menyoroti Batam, Askweni juga meminta BP Kawasan Sabang memaksimalkan potensi maritim yang dimiliki, khususnya sebagai pusat pengisian bahan bakar kapal di jalur pelayaran Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Menurutnya, potensi ekonomi sektor maritim Indonesia masih sangat besar dan perlu dikelola secara optimal agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan negara.
"Sabang itu kita tahu bersama merupakan jalur pelayaran tersibuk, Selat Malaka. Sehingga potensi di sana salah satunya adalah lokasi pengisian bahan bakar kapal. Walaupun Bapak di Sabang, tapi berpikirnya harus internasional. Sesungguhnya potensi pendapatan terbesar negara ini ada di laut. Singapura itu bisa ribuan triliun. Ini harus kita pikirkan," ujarnya.
Karena itu, Askweni mendorong Kepala BPKS untuk memperkuat kajian serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kompetensi di bidang investasi dan kemaritiman. Menurutnya, langkah tersebut penting agar Sabang mampu menarik lebih banyak investor sekaligus berkembang sebagai pusat logistik, industri perikanan, pariwisata, dan layanan pengisian bahan bakar kapal.
"Bagaimana Bapak bisa meyakinkan dengan kapasitas pengetahuan dan kajian bahwa Sabang itu bisa berpotensi mengundang investor sehingga membuka lapangan kerja, meningkatkan ekonomi, bagaimana Sabang bisa menjadi tempat tujuan wisata, pengelolaan ikan, pengisian bahan bakar kapal dan sebagainya," pungkasnya. (ayu/we)