E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
PMN|Transportasi|APBN|Film|Industri Film|KPR FLPP|Kesehatan|Pariwisata|layanan kesehatan|listrik|PLN|Ketenagalistrikan|PSO
Jakarta:
Gerimis
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 80%
Angin: 3 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
PMN|Transportasi|APBN|Film|Industri Film|KPR FLPP|Kesehatan|Pariwisata|layanan kesehatan|listrik|PLN|Ketenagalistrikan|PSO
Jakarta:
Gerimis
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 80%
Angin: 3 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
PMN|Transportasi|APBN|Film|Industri Film|KPR FLPP|Kesehatan|Pariwisata|layanan kesehatan|listrik|PLN|Ketenagalistrikan|PSO
Jakarta:
Gerimis
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 80%
Angin: 3 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

RI Hanya Jadi Pasar Film, Konten Lokal Tergerus Drakor hingga Dracin

Diterbitkan
Senin, 22 Jun 2026 16.34 WIB
Bagikan:
RI Hanya Jadi Pasar Film, Konten Lokal Tergerus Drakor hingga Dracin

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (Panja KDFN) Komisi VII DPR RI di Senayan.|Foto : Kresno/Alma.

PARLEMENTARIA, Jakarta — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi industri film nasional yang dinilainya tengah mengalami anomali. Di satu sisi, Indonesia memiliki talenta kreatif yang melimpah. Di sisi lain, konten film lokal justru didominasi tema sempit, sementara pasar hiburan dalam negeri terus dibanjiri produk asing.


"Kita menjadi market film. Dulu telenovela, lalu drakor, sekarang dracin. Kita sendiri enggak tumbuh," ujar Lamhot dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (Panja KDFN) Komisi VII DPR RI di Senayan, Senin (22/6/2026).


Lamhot mengkritik dominasi tema horor dan kisah perselingkuhan dalam produksi film Indonesia. Menurutnya, tema-tema tersebut tidak mencerminkan potensi budaya dan kekayaan sejarah bangsa yang seharusnya bisa menjadi kekuatan naratif film nasional.

Lihat Juga :

iPhone 16 Tak Masuk Indonesia, Husen: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar

iPhone 16 Tak Masuk Indonesia, Husen: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar

Revisi UU Perlindungan Konsumen, Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar Negara Lain

Revisi UU Perlindungan Konsumen, Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar Negara Lain


"Tema-tema film kita itu lebih kepada dua tematik: satu adalah horor, kedua adalah perselingkuhan. Sementara kita dari Komisi VII ini mendorong film-film kita juga sebagai instrumen promosi pariwisata dan instrumen untuk menguatkan budaya kita," tegasnya.


Ia mencontohkan minimnya film yang mengangkat kepahlawanan tokoh sejarah seperti Diponegoro dan Sisingamangaraja, serta hampir tidak adanya film yang mempromosikan destinasi wisata unggulan Indonesia seperti Raja Ampat, Labuan Bajo, dan Danau Toba. "Film James Bond saja sampai diproduksi di Venezia, padahal Venezia juga sudah sangat terkenal pariwisatanya. Hanya tujuannya untuk mempromosikan Venezia. Kita belum ada seperti itu," kata Lamhot.


Kondisi ini, menurut Lamhot, bukan semata persoalan selera pasar, melainkan cerminan dari lemahnya ekosistem distribusi yang mendorong produser berlomba membuat konten berisiko rendah demi memastikan akses layar. Ia menyebut ketiadaan lembaga yang dapat mendorong nilai edukatif dan budaya dalam proses kurasi konten sebagai salah satu akar masalahnya.


Panja KDFN merekomendasikan agar industri perfilman nasional dioptimalkan sebagai instrumen strategis promosi budaya dan pariwisata. Selain itu, Panja mendorong pemerintah menyediakan subsidi distribusi dan insentif khusus bagi karya yang mengangkat keberagaman budaya lokal, serta mewajibkan analisis dampak ekonomi (multiplier effect) dari kehadiran ekosistem perfilman di suatu daerah, bukan hanya bagi pemilik modal.


Panja juga mendesak pemerintah merespons masifnya dampak kecerdasan buatan (AI) di sektor kreatif dengan menyusun tata kelola regulasi yang adaptif, mengacu pada kebijakan industri perfilman global seperti yang diterapkan di Hollywood.


Dalam rapat yang sama, Cinema Poetica memaparkan bahwa ekosistem perfilman Indonesia membutuhkan investasi yang lebih serius di sektor distribusi dan edukasi, dua komponen yang selama ini jauh tertinggal dibanding pendanaan produksi. Lembaga yang pada 2024 dipercaya Bappenas untuk melakukan studi evaluasi ekosistem perfilman nasional itu mencatat, ketiadaan tolok ukur atas dampak perfilman bagi promosi pariwisata dan pendapatan daerah menjadi salah satu kelemahan struktural yang perlu segera diatasi.


PT Rangkai Kreativitas Indonesia menyebut kondisi ini sebagai mismatch supply demand yang nyata: talenta baru berlimpah, namun etalase tayang sangat terbatas. Platform VOD lokal yang beroperasi di 20 provinsi itu mendorong perlunya dukungan dari berbagai pihak agar publik menonton film lokal di platform lokal secara legal dan terjangkau, sekaligus memperkuat posisi platform dalam negeri di tengah dominasi layanan streaming global. (ndy/aha)

Berita terkait

iPhone 16 Tak Masuk Indonesia, Husen: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar
Industri dan Pembangunan
iPhone 16 Tak Masuk Indonesia, Husen: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar
Revisi UU Perlindungan Konsumen, Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar Negara Lain
Industri dan Pembangunan
Revisi UU Perlindungan Konsumen, Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar Negara Lain
Bonus Demografi Indonesia Akan Jadi Beban Jika Hanya Menjadi Pasar Produk Impor
Isu Lainnya
Bonus Demografi Indonesia Akan Jadi Beban Jika Hanya Menjadi Pasar Produk Impor
Tags:#Film#Industri Film
Sebelumnya

Achmad Ru’yat Dorong Revisi UU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Pekerja Ojol dan Outsourcing

Selanjutnya

Yahya Zaini Dorong Optimalisasi Jaring Pengaman Sosial Pascadirumahkannya 4.000 Buruh PT Feng Tay

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(902)
  • Industri dan Pembangunan(3291)
  • Isu Lainnya(1020)
  • Kesejahteraan Rakyat(3276)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4017)
  • Populer(417)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

LOKAS
DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
PMN|Transportasi|APBN|Film|Industri Film|KPR FLPP|Kesehatan|Pariwisata|layanan kesehatan|listrik|PLN|Ketenagalistrikan|PSO
Jakarta:
Gerimis
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 80%
Angin: 3 km/h