
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal di Cihelang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.|Foto : Ist/Andri
PARLEMENTARIA, Kabupaten, Bandung – Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mendorong pondok pesantren di Indonesia untuk bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, kemampuan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar para santri mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memiliki daya saing di masa depan.
Hal itu disampaikan Cucun saat menyoroti pentingnya transformasi digital di lingkungan pesantren, dengan salah satu contoh lembaga pendidikan yang menjadi perhatian adalah Pondok Pesantren Al-Husaeni Cihelang.
Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, pesantren tidak boleh tertinggal dari perubahan yang sedang berlangsung. Justru, lembaga pendidikan berbasis keagamaan harus menjadi bagian dari ekosistem transformasi teknologi nasional.
"Bahwa pesantren sekarang harus sudah adaptif dengan perkembangan teknologi informasi. Saya ingin pesantren-pesantren itu sudah ramah dengan perkembangan teknologi informasi karena tantangan zaman kedepan. Sekarang sudah lahirnya AI, lahirnya sekarang berbagai konsep-konsep tentang teknologi yang harus adaptif, diimbangi oleh para santri yang ada di pesantren," ujar Cucun, di Cihelang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/6/2026).
Ia menilai kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga dunia kerja. Karena itu, penguatan literasi digital di lingkungan pesantren menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perubahan global.
Dorongan tersebut sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang menempatkan penguasaan teknologi sebagai salah satu kompetensi utama menuju Indonesia Emas 2045. Pesantren, yang selama ini menjadi salah satu pilar pendidikan nasional, dinilai memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu keagamaan, tetapi juga kompeten di bidang teknologi dan inovasi.
Cucun menegaskan bahwa integrasi teknologi di lingkungan pesantren bukan berarti menghilangkan identitas dan nilai-nilai tradisional yang selama ini menjadi kekuatan utama lembaga tersebut. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi harus diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas pendidikan dan memperluas akses pengetahuan bagi para santri.
Menurutnya, perpaduan antara nilai-nilai keislaman, karakter kepesantrenan, dan kemampuan digital akan melahirkan sumber daya manusia yang lebih tangguh dalam menghadapi dinamika dunia global yang semakin kompetitif.
"Teknologi harus menjadi alat penguat bagi pesantren, bukan pengganti nilai-nilai yang telah diwariskan selama ini. Santri harus mampu menjadi generasi yang berakhlak, berpengetahuan, dan menguasai perkembangan zaman," katanya.
Dengan semakin cepatnya transformasi digital, Cucun berharap pesantren di berbagai daerah dapat mulai memperkuat infrastruktur teknologi, meningkatkan kapasitas literasi digital, serta membuka ruang pembelajaran baru yang memadukan pendidikan keagamaan dengan penguasaan teknologi modern. Langkah tersebut dinilai penting agar pesantren tetap relevan dan menjadi pusat lahirnya generasi unggul Indonesia di masa depan. (ssb)