
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian saat meninjau kondisi SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat.|Foto: Nadya/Mahendra
PARLEMENTARIA, Mataram — Komisi X DPR RI melakukan peninjauan untuk melihat kondisi SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (22/5/2026). Kunjungan ini dilakukan tiga hari pascainsiden ambruknya atap dua ruang kelas yang menimpa lima siswi pada Selasa (19/5/2026) lalu. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian terbang langsung dari Jakarta untuk melihat kondisi nyata di lapangan sebagai bagian dari fungsi pengawasan Komisi X terhadap kebijakan dan anggaran pendidikan nasional.
Dari hasil peninjauan, ia menemukan bahwa bangunan yang ambruk telah berdiri sejak 2006 dan sudah berusia 20 tahun.
"Artinya dari kesiapan bangunan, struktur bangunan memang sudah saatnya untuk direvitalisasi," ujar Lalu Hadrian kepada Parlementaria di lokasi.
Di samping persoalan usia bangunan, ia juga menyoroti permasalahan 16 ruang kelas baru yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2024, tetapi hingga kini belum bisa digunakan karena tersangkut masalah hukum. Kondisi ini memaksa siswa tetap menempati gedung lama yang sudah lapuk.
"Jangan sampai hanya gara-gara mandek pekerjaan DAK 2024 ini yang dikorbankan adalah siswa-siswi kita. Kami tidak menginginkan itu," tegas Politisi Fraksi PKB ini.
Terkait hal tersebut, ia meminta pemerintah daerah segera mencari solusi dan mendorong permasalahan ini dibahas melalui forum Forkopimda Provinsi NTB. Ia mengapresiasi langkah Gubernur dan Kepala Dinas Pendidikan NTB yang disebutnya sudah aktif mencari jalan keluar.
Untuk kelas yang ambruk, Lalu Hadrian memastikan akan segera mengusulkan revitalisasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Ia menegaskan bangunan yang ambruk tidak termasuk dalam bangunan yang berstatus sengketa hukum, sehingga proses rehabilitasinya dapat segera berjalan.
"Saya bersama Pak Kadis dan Pak Gubernur akan mengusulkan ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mendapat revitalisasi. Dan saya jamin pasti akan dapat revitalisasi," katanya.
Ia menargetkan proses pembangunan dapat dimulai pada bulan Juni 2026, dengan menjadwalkan pemanggilan Direktur Jenderal terkait pada Selasa (26/5/2026) mendatang untuk segera memulai tahap perencanaan.
"Besok Selasa saya akan panggil Dirjen untuk segera membuat teman-teman di sini membuat perencanaan. Mudah-mudahan bulan depan sudah mulai kita eksekusi," ujarnya.
Target tersebut disebutnya sejalan dengan urgensi penerimaan peserta didik baru melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang akan segera dibuka. Ia menegaskan seluruh sarana dan prasarana SMAN 7 Mataram harus siap sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Selain persoalan infrastruktur, Lalu Hadrian juga menekankan pentingnya program trauma healing bagi siswa yang terdampak, serta perlunya SOP penanganan kebencanaan di sekolah-sekolah dengan bangunan berusia tua.
Dirinya mengimbau para orang tua dan wali murid, ia menyampaikan jaminan keamanan secara langsung.
"Tidak usah takut untuk menyekolahkan anaknya. Tentu kami para pemangku kepentingan di bidang pendidikan akan memperbaiki ini dengan sebaik-baiknya sehingga tercipta kondisi yang aman dan nyaman bagi siswa-siswi kita," pungkasnya. (ndy/rdn)