Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim saat Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI dengan jajaran Kemenpar, Pemda Kabupaten klaten serta manajemen Taman Wisata Candi (TWC) Klaten, Jawa Tengah.|Foto: Arief/Mahendra
PARLEMENTARIA, Klaten — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menyoroti sejumlah persoalan dalam pengelolaan kawasan wisata Candi Prambanan, khususnya terkait optimalisasi manfaat ekonomi bagi daerah serta peningkatan pengalaman wisatawan. Menurutnya, meskipun angka kunjungan wisatawan ke Prambanan terus meningkat, manfaat ekonomi yang dirasakan daerah, khususnya Kabupaten Klaten, belum maksimal.
“Prambanan ini secara administratif berada di Klaten, tetapi daerah belum bisa menyediakan fasilitas pendukung seperti hotel dan penginapan karena terbentur regulasi. Akibatnya, manfaat ekonominya belum optimal,” ujar Chusnunia kepada Parlementaria usai pertemuan Tim Kunjungan Spesifik Komisi VII DPR RI dengan jajaran Kementerian Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Klaten, serta manajemen Taman Wisata Candi (TWC), di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026).
Ia menegaskan perlunya dukungan kebijakan dan penyesuaian regulasi agar pemerintah daerah dapat lebih leluasa menyediakan amenitas bagi wisatawan. Menurutnya, hal tersebut penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Selain itu, Chusnunia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pengalaman wisata di kawasan Prambanan. Menurutnya, wisata berbasis heritage seperti Prambanan tidak cukup hanya menawarkan kunjungan melihat candi.
“Kalau hanya melihat candi, orang bisa bosan. Harus ada pengalaman yang mengesankan agar wisatawan ingin datang kembali,” katanya.
Ia mencontohkan event Prambanan Jazz yang mampu menarik minat pengunjung untuk kembali, meskipun hanya berlangsung beberapa hari dalam setahun. Oleh karena itu, diperlukan penambahan ragam atraksi dan kegiatan wisata sepanjang tahun.
Masalah lain yang disoroti ialah keterbatasan konektivitas penerbangan internasional menuju destinasi tersebut. Chusnunia menyebut masih minimnya akses penerbangan langsung dari negara-negara potensial seperti Thailand, India, dan China.
“Konektivitas masih kurang. Padahal, pasar wisatawan dari negara-negara tersebut punya potensi besar,” ujarnya.
Tidak hanya akses penerbangan, ia juga menilai Prambanan belum memiliki produk oleh-oleh atau kuliner khas yang kuat sebagai identitas destinasi. Menurutnya, keberadaan ikon kuliner atau merchandise penting untuk memperkuat daya tarik wisata. “Harus ada sesuatu yang khas. Kalau tidak membeli atau mencicipi itu, rasanya belum ke Prambanan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, legislator Fraksi PKB itu juga menekankan pentingnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Chusnunia mengungkapkan bahwa hingga kini belum ada forum komunikasi yang intens dan efektif antara pihak-pihak terkait.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong Kementerian Pariwisata untuk mengambil peran dalam mengorkestrasi kolaborasi tersebut melalui forum yang lebih dialogis dan solutif, bukan sekadar formalitas. “Forum yang dibutuhkan adalah yang esensial, yang bisa membahas masalah secara detail dan mencari solusi bersama,” pungkasnya. (afr/aha)