Anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita. |Foto: Septamares/Mahendra
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi IV DPR RI Sonny T. Danaparamita mendorong pengembangan tanaman sukun dalam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) sebagai upaya memulihkan lahan kritis sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Menurutnya, kerusakan lingkungan dan meluasnya lahan kritis telah memicu meningkatnya bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan di berbagai daerah.
Oleh karena itu, rehabilitasi lahan dinilai perlu melibatkan masyarakat secara langsung melalui pola yang produktif dan berkelanjutan. “Kondisi lingkungan kita semakin rusak dan lahan kritis semakin luas. Dampaknya, banjir, longsor, dan kekeringan sering terjadi. Karena itu, masyarakat perlu hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi,” ujar Sonny dalam keterangan yang dikutip Parlementaria, Kamis (7/5/2026).
Sebelumnya diketahui ia baru saja melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) RHL yang berlangsung pada 4–6 Mei 2026. Kegiatan itu melibatkan masyarakat penerima Program Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan Bibit Produktif hasil kolaborasi Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Kehutanan.
Dalam kesempatan itu, politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menjelaskan, rehabilitasi hutan dan lahan tidak sekadar menanam pohon, melainkan upaya jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Sonny secara khusus menyoroti tanaman sukun sebagai komoditas strategis yang layak dikembangkan. Selain cocok untuk rehabilitasi lahan, sukun juga dinilai berpotensi menjadi alternatif sumber pangan.
“Kami mendorong kelompok masyarakat untuk mulai membudidayakan dan membibitkan sukun. Sukun dapat menjadi makanan pendamping, bahkan alternatif pengganti beras, karena kandungan karbohidratnya hampir setara dengan nasi dan nutrisinya cukup lengkap,” katanya.
Sonny menambahkan, potensi ekonomi sukun juga semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap produk pangan sehat. “Sukun kini dipandang sebagai superfood di Eropa. Permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini peluang yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan, sehingga rehabilitasi lahan tidak hanya berdampak lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Selain sukun, program RHL juga mendorong penanaman tanaman buah dan kayu yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Namun, Sonny menegaskan keberhasilan rehabilitasi lahan sangat bergantung pada konsistensi perawatan dan keberlanjutan pengelolaan.
“Menanam pohon adalah investasi jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Ia berharap pengembangan sukun dapat menjadi model rehabilitasi lahan produktif yang mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. (hal/aha)