
Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat IX, Ateng Sutisna saat menggelar reses di Desa Bunihayu, Kecamatan Jalancagak.|Foto : Ist/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat IX, Ateng Sutisna, mendorong penguatan kemitraan antara koperasi, petani, dan korporasi dalam pengembangan industri nanas di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Hal itu disampaikannya saat menggelar reses di Desa Bunihayu, Kecamatan Jalancagak, Selasa (28/04/2026).
Dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria pada Selasa (5/5/2026), Ateng menyoroti potensi besar nanas Subang sebagai komoditas unggulan daerah. Data Pemerintah Kabupaten Subang mencatat luas lahan nanas mencapai sekitar 1.630 hektare dengan produksi hingga 296.000 ton per tahun. Sementara data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi sekitar 158.180 ton atau 4,94 persen dari total produksi nasional pada 2022.
“Angka ini menegaskan bahwa Subang merupakan salah satu sentra utama produksi nanas nasional yang harus didorong naik kelas, tidak hanya di hulu tetapi juga di hilir,” ujar Ateng saat menghadiri acara yang berlangsung di Aula Koperasi Produsen Upland Subang Farm tersebut.
Politisi Fraksi PKS itu menilai, upaya hilirisasi nanas di Subang pernah dilakukan melalui pembangunan industri pengolahan, namun tidak berkelanjutan akibat lemahnya kemitraan antara petani dan industri. Ketidakstabilan pasokan bahan baku, yang dipicu praktik penjualan ke pihak lain saat harga naik, menyebabkan industri tidak mampu bertahan.
“Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bahwa penguatan industri tidak cukup hanya pada produksi, tetapi harus dibangun dengan sistem kemitraan yang kuat dan saling mengikat,” tegas Anggota Komisi XII DPR RI ini.
Ateng melihat kehadiran Koperasi Produsen Upland Subang Farm sebagai model baru dalam memperkuat kelembagaan petani. Koperasi yang merupakan bagian dari Program UPLAND ini melibatkan sekitar 87 kelompok tani dengan lebih dari 3.300 petani di wilayah dataran tinggi Subang.
Dalam waktu relatif singkat, koperasi tersebut telah menunjukkan kinerja positif, termasuk keberhasilan menembus pasar ekspor komoditas manggis dengan nilai transaksi kumulatif mencapai Rp6,6 miliar. Koperasi juga tengah merencanakan pengembangan unit pengolahan nanas sebagai bagian dari penguatan hilirisasi.
Namun demikian, Ateng menyoroti keterbatasan modal kerja yang masih menjadi kendala utama koperasi dalam menyerap hasil panen petani secara optimal.
“Kapasitas koperasi perlu diperkuat agar mampu menjadi off-taker yang stabil bagi petani, sehingga mereka tidak kembali bergantung pada tengkulak,” ujar Ateng.
Untuk itu, Ateng mendorong Pemerintah Kabupaten Subang dan Koperasi Upland Subang Farm membuka ruang kolaborasi dengan korporasi agribisnis yang memiliki pengalaman dan kapasitas industri, guna memperkuat rantai pasok dan mempercepat hilirisasi produk nanas.
Lebih lanjut Ia menilai kemitraan yang terstruktur dan saling menguntungkan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri, sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani.
“Subang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi dan industri nanas nasional. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang kuat, sistem yang terintegrasi, dan komitmen bersama agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh petani,” ujar Ateng menutup pernyataan resminya. (uc/rdn)