
Wakil Ketua Komisi X DPR MY Esti Wijayati, saat memimpin Tim Kunker Reses Komisi X DPR RI mengunjungi SDN 012 Karimun di Dusun II Tulang, Kabupaten Karimun, Kepri.
PARLEMENTARIA, Karimun – Wakil Ketua Komisi X DPR MY Esti Wijayati temukan sejumlah persoalan mendasar dalam sektor pendidikan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, terutama terkait ketimpangan akses dan keterbatasan fasilitas di wilayah kepulauan. Meskipun capaian rata-rata lama sekolah di Karimun sudah tergolong baik, tetapi masih terdapat tantangan besar dalam pemerataan layanan pendidikan.
“Secara data memang cukup bagus, rata-rata lama sekolah sudah di atas rata-rata nasional, tapi harapan lama sekolah masih tertinggal. Ini menunjukkan masih ada persoalan akses dan fasilitas pendidikan,” ujar Esti saat memimpin Tim Kunker Reses Komisi X DPR RI mengunjungi SDN 012 Karimun di Dusun II Tulang, Kabupaten Karimun, Kepri, Kamis (24/4/2026).
Menurut Politisi F-PDI Perjuangan ini, kondisi geografis Karimun yang terdiri dari lebih dari 250 pulau, dengan sekitar 50 pulau berpenghuni, menjadi tantangan tersendiri. Di beberapa wilayah, jumlah siswa sangat terbatas, bahkan hanya puluhan untuk satu sekolah dasar.
“Nah, di beberapa wilayah tertentu, jumlah murid itu sangat terbatas, bahkan hanya sekitar 31 orang untuk seluruh jenjang dari kelas 1 sampai kelas 6. Kondisi seperti ini tentu tidak bisa disamakan dengan daerah perkotaan, sehingga menjadi perhatian serius bagi kita semua dalam merumuskan pola pengelolaan pendidikan di wilayah 3T. Mulai dari distribusi guru, efisiensi anggaran, hingga penyediaan sarana dan prasarana harus disesuaikan dengan karakteristik daerahnya, agar layanan pendidikan tetap berjalan optimal meskipun dengan jumlah peserta didik yang minim,” lanjutnya.
Selain itu, Legislator Dapil DI Yogyakarta ini, juga menyoroti fenomena sekolah dengan keterbatasan ruang kelas sehingga harus menerapkan sistem belajar tiga shift. Kondisi ini dinilai tidak ideal bagi proses belajar mengajar. “Kalau sampai tiga shift, ada anak yang masuk siang sampai sore. Ini tentu tidak pas untuk dunia pendidikan kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, ada muncul usulan agar bangunan sekolah yang ada dapat direnovasi menjadi bertingkat, sehingga kapasitas ruang kelas bisa ditingkatkan tanpa harus menambah lahan. Dengan langkah tersebut, diharapkan kepadatan siswa di ruang belajar dapat terurai dan proses belajar mengajar menjadi lebih optimal. (jk/rdn)