Anggota Komisi VI DPR RI Sarmuji, dalam Kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI, di Yogyakarta.
PARLEMENTARIA, Yogyakarta — Anggota Komisi VI DPR RI Sarmuji menekankan pentingnya strategi pariwisata yang terukur dalam upaya mencapai target peningkatan dua juta wisatawan mancanegara di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Oleh karena itu, ia meminta InJourney sebagai pengelola ekosistem pariwisata untuk tidak melakukan promosi secara generalis, melainkan melalui pemetaan segmentasi yang tepat.
"Wisatawan di Jawa Tengah dan Yogyakarta itu memiliki karakter yang khas dan berbeda dengan tempat lain. Kita mesti melihat segmentasi wisatawan, karakter wisatawan apa yang suka datang pada jenis wisata seperti itu, supaya promosinya tepat. Karena tanpa memetakan itu, kita akan buang-buang waktu," jelas Sarmuji ke Parlementaria pada sela-sela kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI, di Yogyakarta, Rabu (22/4/2026).
Selain aspek promosi, Politisi Fraksi Partai Golkar ini mendorong InJourney untuk lebih aktif merangkul para pemangku kepentingan di daerah. Menurutnya, pengembangan narasi kultural tidak bisa dilakukan secara sepihak oleh korporasi.
"InJourney perlu duduk dengan pemerintah daerah, budayawan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan serta paham masalahnya. Apalagi kalau kita ingin mengembangkan narasi-narasi yang khas dan kultural, harus ada pihak lain yang diajak bicara," tegasnya.
Terkait kinerja Holding Perhotelan BUMN, Sarmuji memberikan catatan kritis terhadap progres konsolidasi aset yang dinilai berjalan lambat. Ia khawatir jika hambatan ini tidak segera diatasi, target pertumbuhan pariwisata akan sulit tercapai.
Untuk itu, ia mendorong pihak terkait untuk segera mengidentifikasi kendala utama dalam proses konsolidasi tersebut, baik yang bersifat kebijakan maupun investasi. Ia berharap komunikasi dengan PT Danantara (selaku pihak penunjuk investasi) dapat ditingkatkan guna mencari solusi konkrit.
"Saya melihat gerakannya lambat. Banyak sekali aset yang harus dikonsolidasikan, cara penanganannya tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Kalau itu tidak segera dikonsolidasikan, apa yang kita harapkan pasti tidak akan bisa kita capai. Kalau masalahnya kebijakan, kami tentu bisa bantu. Tapi kalau masalahnya investasi, harus segera dikomunikasikan ke Danantara," pungkas Sarmuji. (tra/aha)