
Anggota Komisi II DPR RI, Wahyudin Noor Aly.
PARLEMENTARIA, Semarang - Anggota Komisi II DPR Wahyudin Noor Aly mendorong Bank Jateng untuk melakukan perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil, khususnya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Menurutnya, penyaluran kredit kepada usaha kecil memiliki dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan kredit besar yang hanya dinikmati oleh kalangan tertentu.
“Kalau kredit besar biasanya hanya dinikmati kelompok usaha besar. Tapi KUR, meskipun nilainya kecil, penikmatnya banyak dan dampaknya lebih luas,” jelas Goyud sapaan akrabnya, usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Tim Komisi II DPR RI di Kantor Gubernur Jateng di Semarang, Rabu (1/4/2026).
Politisi Fraksi PAN ini menambahkan, ke depan Bank Jateng diharapkan mampu menjangkau pelaku usaha mikro yang belum tersentuh layanan perbankan, terutama pedagang kecil di pasar tradisional yang masih bergantung pada pinjaman informal dengan bunga tinggi.
“Banyak pedagang kecil yang terjebak pinjaman dengan bunga tinggi, bahkan bisa sampai 25 persen. Ini yang harus disentuh oleh bank daerah dengan skema kredit yang lebih ringan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Legislator Dapil Jateng IX ini menilai keberhasilan bank daerah tidak hanya diukur dari besarnya laba, tetapi juga dari sejauh mana bank mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil. Penyaluran kredit mikro dengan nominal kecil, bahkan di bawah Rp1 juta, ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Bank Jateng untuk memperluas inklusi keuangan.
“Ukuran keberhasilan bank itu bukan hanya besar kecilnya laba, tetapi bagaimana bisa menyalurkan kredit ke sektor usaha kecil yang benar-benar membutuhkan,” ungkapnya.
Selain itu, Goyud mengapresiasi kinerja Bank Jateng yang dinilai mampu mencatatkan laba signifikan dan berkontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jawa Tengah. Capaian laba Bank Jateng sebesar Rp1,87 triliun merupakan prestasi yang patut diapresiasi, terutama di tengah tantangan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami mengapresiasi kinerja Bank Jateng yang mampu mencatatkan laba hingga Rp1,87 triliun. Ini luar biasa, apalagi dalam situasi ekonomi yang tidak mudah,” ujarnya.
Menurutnya, Bank Jateng menjadi salah satu penyumbang PAD terbesar bagi daerah, bahkan setelah sektor pajak kendaraan. Kondisi ini dinilai sangat penting di tengah tekanan fiskal daerah, termasuk adanya penyesuaian transfer ke daerah serta pembatasan belanja pegawai. Ia menjelaskan, ke depan pemerintah daerah perlu terus bersinergi dengan manajemen BUMD agar kinerja keuangan tetap terjaga dan bahkan meningkat.
“Salah satu sektor yang bisa dioptimalkan adalah pendapatan dari badan usaha milik daerah. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan manajemen bank harus terus diperkuat,” katanya.
Dengan capaian yang ada, kami optimistis Bank Jateng dapat terus meningkatkan kinerjanya dan memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Ia bahkan mendorong Bank Jateng untuk berani menargetkan capaian yang lebih tinggi, termasuk menyaingi bank pembangunan daerah lain di Indonesia.
“Prestasi ini sudah sangat baik, tapi ke depan harus lebih berani lagi untuk berkembang dan menjadi yang terbaik,” pungkasnya. (jk/rdn)