
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher.|Foto: Sari/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan pentingnya menjaga kewaspadaan terhadap influenza di tengah pemantauan aktivitas virus yang masih berlangsung di Indonesia. Ia meminta upaya pencegahan, edukasi masyarakat, dan deteksi dini terus diperkuat guna menekan risiko penularan, terutama pada kelompok rentan.
Berdasarkan laporan surveilans Kementerian Kesehatan periode 18–24 Oktober 2026, sebanyak 172 dari 400 spesimen yang diperiksa terdeteksi positif influenza. Meski proporsi hasil positif mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya, Netty menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah.
“Data ini perlu menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap influenza harus terus dijaga. Kita tidak perlu panik, tetapi pencegahan dan deteksi dini jangan sampai diabaikan,” ujar Netty kepada Parlementaria, Senin (26/10).
Ia menekankan, anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian khusus karena berisiko mengalami komplikasi ketika terinfeksi. Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai gejala influenza dan langkah pencegahannya perlu terus ditingkatkan.
Netty mendorong penguatan edukasi mengenai etika batuk dan bersin, kebersihan tangan, serta penggunaan masker saat sakit untuk mengurangi risiko penularan. Menurutnya, sekolah dan keluarga juga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini.
“Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam pencegahan. Anak-anak perlu dibiasakan menjaga kebersihan, sementara orang tua harus peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak dan tidak memaksakan mereka beraktivitas ketika sedang sakit,” jelas politisi Fraksi PKS tersebut.
Selain pencegahan di lingkungan masyarakat, Netty meminta kesiapan Puskesmas dan rumah sakit terus diperhatikan. Kemudahan akses pemeriksaan, ketepatan penanganan, serta sistem rujukan yang berjalan baik dinilai penting agar pasien yang membutuhkan pertolongan dapat segera memperoleh layanan kesehatan.
“Kita juga membutuhkan informasi yang akurat, edukasi yang mudah dipahami, dan layanan kesehatan yang siap. Penggunaan obat, termasuk antivirus, harus berdasarkan penilaian tenaga medis, bukan karena kepanikan atau mengikuti informasi yang belum terverifikasi,” tegasnya. (ndy/ssb)