
Anggota Panitia Kerja (Panja) Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI) BKSAP DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi saat kunjungan kerja Panja AI DPR RI ke Program DKV BINUS University, Tangerang Selatan, Banten.|Foto: Estu/jk
PARLEMENTARIA, Tangerang Selatan — Anggota Panitia Kerja (Panja) Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI) BKSAP DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi menegaskan bahwa AI perlu dimanfaatkan sebagai mitra kreatif yang mendukung produktivitas dan kreativitas manusia, bukan malah menjadi ancaman bagi insan kreatif. Menurutnya, pemanfaatan AI tetap perlu memperhatikan empati, orisinalitas, pemikiran kritis, dan etika dalam berkarya.
“Kami di DPR dan Panja AI membutuhkan masukan dari para pakar, praktisi, dan akademisi BINUS agar regulasi AI yang nantinya dirumuskan tidak kaku atau mematikan inovasi, tetapi mampu melindungi hak-hak masyarakat, etika, keamanan data, dan kedaulatan digital bangsa,” ujar Habib Aboe saat kunjungan kerja Panja AI DPR RI ke Program Desain Komunikasi Visual (DKV) BINUS University, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (30/9/2026).
Menurut Anggota Komisi III DPR RI tersebut, transformasi digital Indonesia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, DPR, dan perguruan tinggi. Masukan akademisi diperlukan agar regulasi AI mampu mengakomodasi inovasi sekaligus melindungi hak masyarakat dan memastikan pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab.
Selain regulasi, Habib Aboe menyoroti pentingnya menyiapkan talenta digital yang memiliki kemampuan teknis sekaligus integritas dan pemahaman etika AI. Ia berharap perguruan tinggi dapat terus berperan dalam mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi perkembangan teknologi.
Secara khusus, ia berpesan kepada mahasiswa dan alumni DKV agar tidak takut menghadapi perkembangan AI generatif. Teknologi tersebut dapat membantu menghasilkan karya secara cepat, tetapi kreativitas manusia tetap dibutuhkan untuk menghadirkan empati, pemahaman budaya, dan storytelling yang bermakna.
“AI adalah alat, bukan pengganti rasa dan empati humanis. AI bisa memproses jutaan data dan menghasilkan visual secara instan, tetapi AI tidak memiliki rasa empati, konteks budaya, pemahaman emosi mendalam, dan storytelling yang menyentuh hati manusia,” jelas Politisi Fraksi PKS itu.
Karena itu, Habib Aboe mendorong insan kreatif untuk menguasai perangkat AI guna meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan orisinalitas dan etika hak cipta. Ia juga mengajak mahasiswa untuk terus berinovasi dengan mempertahankan identitas serta kearifan lokal Indonesia.
“Jangan posisikan AI sebagai musuh, jadikan AI sebagai asisten kreatif kalian,” pesannya.
Kunjungan Panja AI BKSAP DPR RI ke BINUS University tersebut menjadi bagian dari upaya menghimpun masukan akademik dan praktis untuk memperkaya penyusunan rekomendasi kebijakan AI di Indonesia, dengan tetap memperhatikan perlindungan masyarakat, kesiapan sumber daya manusia, dan keberlanjutan industri kreatif. (est/rdn)