
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Tim Panja RUU Kawasan Industri ketika melaksanakan Kunjungan Kerja ke PT. ALVA , di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.|Foto: Dwiki/sai
PARLEMENTARIA, Kabupaten Bekasi - Ketua Tim Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mengingatkan agar program elektrifikasi kendaraan tidak sekadar menjadi tren pasar tanpa arah. Transisi menuju ekosistem Kendaraan Listrik (EV) diwajibkan segera memutus rantai ketergantungan impor komponen utama sekaligus memangkas beban biaya bahan bakar rakyat kecil.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut menyoroti rapuhnya struktur produksi otomotif lokal akibat absennya suplai material dasar dari dalam negeri. Menurutnya, percepatan operasional pabrik Indonesia Battery Corporation (IBC) adalah syarat mutlak untuk menggenjot Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Sekarang ini kan sebenarnya masalah yang mereka hadapi ini adalah bahan baku ya, baterai, plastiknya. Itu kan masih impor kita. Kita dorong lah segera yang namanya IBC ini, yang produksi baterai ini bisa segera terealisasi dan diproduksi, sehingga pencapaian TKDN 60 ke 80 itu bisa tercapai," tegas Evita dalam Kunjungan Kerja Panja RUU Kawasan Industri Komisi VII DPR RI ke fasilitas PT Ilectra Motor Group (ALVA) di Delta Silicon Industrial Park, Kawasan Industri Lippo Cikarang, pada Rabu (23/9/2026).
Selain membenahi hulu industri, Evita menekankan bahwa keberhasilan adopsi energi hijau ini sangat bergantung pada jaminan penghematan pengeluaran masyarakat bawah. Penurunan biaya operasional tersebut juga harus diimbangi dengan keandalan infrastruktur perawatan (after-care) yang menjangkau ke seluruh nusantara.
"Kalau kita ambil untuk manfaatnya untuk rakyat aja deh, rakyat kecil ya, itu kan dulu mahal banget isi bensin. Dengan motor listrik ini kan terjadi efisiensi. Saya baca presentasi dari PT ALVA, mereka itu sudah punya after care-nya di 130 titik. Memang saat ini mereka masih ke Pulau Jawa dan Makassar, Bali. Dan tentunya kita harapkan dalam waktu dekat itu akan mencakup skala nasional," desaknya.
Merespons tuntutan kemandirian hulu dan kesiapan layanan hilir tersebut, CEO ALVA Purbaja Pantja mengakui lini elektrifikasi masih membutuhkan suntikan investasi nasional yang kuat. Pihaknya saat ini terus menekan inefisiensi melalui adopsi standar manajemen mutu berteknologi tinggi demi menjaga daya tahan produk.
"Untuk komponen yang berhubungan dengan electrical atau baterai, industri nasional masih memerlukan penguatan dari sisi teknologi, skala ekonomi, dan investasi. Fasilitas kami juga dikembangkan dengan pendekatan smart manufacturing berbasis industri 4.0, serta telah mendapat ISO 9001 untuk manajemen mutu. Yang kami ingin pastikan di sini adalah prosesnya sudah berjalan dengan baik," papar Purbaja. (dwk/aha)