
Anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manalu saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Komisi VII DPR RI tentang Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional dengan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta.|Foto: Munchen/Septamares
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manalu mempertanyakan konsep zero emission dalam pengembangan kendaraan listrik nasional apabila sumber energi listrik yang digunakan masih didominasi pembangkit berbasis fosil. Menurutnya, elektrifikasi kendaraan perlu diikuti dengan peralihan sumber energi agar tujuan pengurangan emisi benar-benar tercapai.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menilai konsep kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya mencapai zero emission perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi emisi kendaraan. Ia mempertanyakan apakah elektrifikasi kendaraan tidak sekadar memindahkan sumber emisi dari kendaraan ke pembangkit listrik.
“Ketika misalnya disebut ini mau zero emission. Cuma, apakah betul zero emission hanya sekadar mengalihkan zero emission dari kendaraan?” kata Bane saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Komisi VII DPR RI tentang Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional dengan Direktur Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi penting karena sebagian besar sumber listrik Indonesia masih berasal dari energi fosil, terutama batu bara. Karena itu, peningkatan penggunaan kendaraan listrik berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik secara nasional.
Bane meminta pemerintah menghitung secara konkret tambahan kebutuhan listrik apabila elektrifikasi kendaraan dilakukan secara masif. Perhitungan tersebut diperlukan untuk mengetahui kesiapan sistem kelistrikan nasional sekaligus memastikan target pengurangan emisi dapat tercapai.
“Kalau misalnya mobil listrik ini katakanlah berhasil melakukan elektrisasi mobil, kendaraan, kebutuhan listrik yang akan bertambah kira-kira berapa? Se-Indonesia?” tanya Legislator Dapil Sumatra Utara III itu.
Selain itu, Bane mempertanyakan seberapa besar tambahan kebutuhan listrik tersebut nantinya dapat dipenuhi dari sumber energi nonfosil. Menurutnya, informasi tersebut menjadi bagian penting dalam mengukur efektivitas kebijakan kendaraan listrik terhadap pengurangan emisi. “Lalu kemudian dari kebutuhan listrik tadi, berapa besar itu yang katakan hasil dari entah tenaga apa pun selain fosil?” ujarnya.
Bane menegaskan bahwa apabila tujuan utama pengembangan kendaraan listrik adalah mencapai zero emission, pemerintah perlu memastikan sumber energi yang menopang elektrifikasi juga semakin bersih. “Kalau memang tujuannya adalah zero emission, ini yang menurut saya pertanyaan yang paling dasar yang penting juga untuk dijawab,” pungkasnya. (fa/we)