
Anggota Komisi XII DPR RI Irsan Sosiawan Gading saat mengemukakan pendapat usai meninjau Pabrik PT.BYD Auto Indonesia di Subang, Jawa Barat, Jum'at (4/9/2026).|Foto : Jaka/Alma
PARLEMENTARIA, Subang — Anggota Komisi XII DPR RI Irsan Sosiawan Gading menekankan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada industri kendaraan listrik harus dibarengi dengan transfer teknologi kepada pekerja lokal. Menurutnya, keberadaan industri kendaraan listrik di Indonesia tidak cukup hanya memberikan manfaat investasi dan membuka lapangan kerja, tetapi juga harus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam negeri.
“Transfer teknologi harus tetap kita utamakan, terutama pekerja-pekerja lokal. Kita harus mendorong agar transfer knowledge ini berjalan dan tidak terjadi ketergantungan kepada pihak luar,” ujar Irsan saat mengikuti Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI meninjau Pabrik PT BYD Auto Indonesia di Subang, Jawa Barat, Jumat (4/9/2026).
Irsan mengapresiasi kehadiran fasilitas manufaktur BYD di Subang. Ia menyebut capaian TKDN saat ini telah mencapai sekitar 40 persen dan diharapkan terus meningkat.
“Kita harus bangga ada satu pabrik yang seperti ini. TKDN saat ini sudah sampai 40 persen dan nantinya ditargetkan 80 persen,” pungkasnya.
Di sisi lain, Irsan menyoroti rencana peningkatan jumlah tenaga kerja BYD hingga sekitar 20.000 orang. Saat ini, jumlah pekerja di fasilitas tersebut disebut mencapai sekitar 5.000 orang. Menurutnya, peningkatan jumlah tenaga kerja harus diikuti dengan penguatan kompetensi pekerja Indonesia.
Pada tahap awal pengembangan industri, sejumlah tenaga ahli dan engineer dari China masih dilibatkan untuk mendukung proses transfer pengetahuan dan penguasaan teknologi. Sementara itu, sekitar 500 pekerja lokal disebut telah mendapatkan pembelajaran dan transfer pengetahuan di luar negeri.
“Tadi kita sudah dipaparkan bahwa sekitar 500 pekerja lokal belajar untuk mendapatkan transfer knowledge. Nantinya mereka diharapkan menjadi pekerja utama di BYD,” imbuhnya.
Irsan menegaskan Komisi XII DPR RI akan mengawal agar peningkatan investasi dan kapasitas produksi BYD juga memberikan ruang yang semakin besar bagi tenaga kerja Indonesia.
“Kami berharap mayoritas pekerja nantinya berasal dari tenaga kerja lokal. Sementara tenaga kerja asing tetap dibutuhkan, khususnya untuk mendukung proses transfer teknologi dan penguasaan teknologi kendaraan listrik yang masih tergolong baru di Indonesia,” ujarnya.
Ia menargetkan sekitar 80 persen tenaga kerja di fasilitas tersebut nantinya berasal dari pekerja lokal. Adapun tenaga kerja asing tetap diperlukan terutama untuk posisi engineer yang berkaitan dengan penguasaan teknologi baru.
“Targetnya jelas, sekitar 80 persen harus pekerja lokal. Sisanya bisa dari pihak luar, terutama untuk engineer karena ini merupakan teknologi baru yang memang harus benar-benar dikuasai,” tutup Irsan. (Jk/um)