
Anggota Komisi VII DPR Siti Mukaromah saat peninjauan lapangan di pabrik PT BEST Semarang, Jawa tengah. |Foto: Aaron/sai
PARLEMENTARIA, Semarang – Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah mendorong pemerintah dan pelaku industri membangun jaringan komunikasi serta akses pasar yang terintegrasi antara petani penghasil bahan baku lokal dan industri pengolahan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan potensi komoditas perkebunan dalam negeri, seperti kelapa sawit dan kopi, dapat terserap secara optimal.
Hal itu disampaikan Siti saat meninjau Pabrik Pengolahan CPO PT Berkah Emas Sumber Terang (BEST) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026). Menurutnya, keterhubungan antara petani dan industri menjadi bagian penting dalam memperkuat rantai pasok bahan baku nasional.
“Indonesia punya potensi bahan baku lokal yang sangat luar biasa. Kita butuh sinergitas dan jaringan informasi agar masyarakat petani kelapa sawit atau komoditas lain bisa terhubung langsung dengan pabrik-pabrik yang membutuhkan bahan baku. Jangan sampai masyarakat merasa tidak ada saluran pasar lalu membuang hasilnya, padahal ada pabrik yang membutuhkan tetapi tidak ada akses,” tegas Siti.
Politisi Fraksi PKB itu menilai penyerapan bahan baku dari perkebunan rakyat oleh industri seperti PT BEST perlu menjadi contoh bagi perusahaan sejenis. Menurutnya, penguatan kemitraan antara industri dan masyarakat perkebunan dapat memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
“Apa yang dilakukan dengan menggunakan produk lokal ini harus menjadi motivasi bagi perusahaan lain. Tugas kita bersama untuk memotivasi dan menyambungkan masyarakat perkebunan dengan pengusaha yang membutuhkan bahan baku lokal,” ujarnya.
Selain memperkuat rantai pasok, Siti juga menyoroti penerapan prinsip industri hijau, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah dalam operasional pabrik. Ia menekankan pentingnya memastikan aktivitas industri tidak menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Pengelolaan limbah di PT BEST kami lihat sudah ada kemajuan lebih baik, tetapi tentunya harus terus kita kawal dan awasi. Limbah akan menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik, tetapi bisa menjadi energi positif jika pengelolaannya tepat,” jelasnya.
Siti menegaskan, pengelolaan limbah harus menjadi bagian integral dari pengembangan industri nasional. Karena itu, Komisi VII DPR RI akan terus mendorong pelaku usaha untuk memastikan seluruh proses produksi memperhatikan keberlanjutan lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Komisi VII selalu mengingatkan pelaku usaha, sekecil atau sebesar apa pun produksinya, limbah jangan sampai menjadi masalah bagi masyarakat. Kalau bisa, malah diolah menjadi bahan yang mengoptimalkan daya produksi,” pungkasnya. (aar/ssb)