
Anggota DPR RI, Marwan Cik Asan usai menghadiri acara Diskusi Kebangsaan bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.|Foto : Arifman/Alma
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota DPR RI Marwan Cik Asan menegaskan pentingnya pemilihan isu-isu kontemporer seperti kecerdasan buatan (AI) dan media sosial dalam setiap agenda Diskusi Kebangsaan bersama mahasiswa. Hal ini dimaksudkan agar pemahaman nilai-nilai kebangsaan dapat diserap secara relevan dan interaktif oleh generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan Marwan usai mendampingi Wakil Ketua MPR RI yang juga Anggota DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), dalam acara Diskusi Kebangsaan bertajuk "AI, TikTok, dan Politik: Siapa yang Menentukan Masa Depan Indonesia?" bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Marwan menjelaskan bahwa penggunaan platform digital maupun AI sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian Gen Z. Oleh karena itu, materi wawasan kebangsaan tidak lagi ditransmisikan secara kaku, melainkan dikemas sesuai dengan lanskap digital yang mereka geluti sehari-hari.
"Tentu itu salah satu yang menjadi alasan utama agar kita melihat bahwa segmen yang hadir inikan para Gen Z ya, yang sangat dekat dengan AI, dengan TikTok, dengan media sosial. Sehingga kalau kita memilih tema diskusi kebangsaan yang relevan dengan mereka, tentu antusiasme mereka kan pasti akan tinggi," ujar Marwan saat diwawancarai.
Lebih lanjut, legislator Fraksi Partai Demokrat ini menuturkan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa dalam ruang diskusi mencerminkan harapan besar generasi muda terhadap masa depan pembangunan nasional. Mereka tidak hanya fokus pada perkembangan teknologi, tetapi juga mengaitkannya dengan kesiapan dunia kerja serta iklim usaha.
"Tentunya Indonesia yang lebih baik untuk mereka ke depan, itu yang mereka harapkan. Bagaimana Indonesia ini semakin baik, semakin siap, mereka juga nanti setelah selesai pendidikan bisa mendapatkan lapangan pekerjaan, bisa mendapatkan lapangan usaha, bisa terus berkreativitas," jelasnya.
Marwan menambahkan, agenda dialog dan brainstorming kebangsaan seperti ini rutin diselenggarakan oleh pimpinan untuk menyerap aspirasi dari pelbagai elemen masyarakat, mulai dari akademisi, pakar, hingga kelompok mahasiswa.
"Keinginan kita bersama, juga keinginan adik-adik semua, bagaimana mereka bisa mencintai Indonesia, tentu karena Indonesia itu bisa memberikan pengharapan pada mereka juga," pungkas Marwan.
Berdasarkan laporan LPSN Digital Inclusion Index, tingkat penetrasi internet anak muda di Indonesia mencapai lebih dari 89%, di mana mayoritas mengakses platform media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sumber informasi utama. Integrasi literasi digital dan edukasi politik menjadi kunci penting dalam memperkuat benteng kebangsaan di tengah masifnya paparan informasi digital bagi pemilih pemula. (ndy/aha)