
Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan, saat ditemui Parlementaria usai mengikuti Sidang Tahun MPR RI, Sidang Bersama DPR RI-DPD RI dan Rapat Paripurna DPR Tentang RAPBN T.A. 2027 di Senayan, Jakarta.|Foto: Astri/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan mengapresiasi pidato Presiden Prabowo Subianto yang menghadirkan langsung penerima manfaat sejumlah program pemerintah. Menurut Hinca, kehadiran masyarakat penerima manfaat menjadi bukti konkret atas program yang disampaikan Presiden sekaligus membuat pidato lebih dekat dengan rakyat.
“Saya hari ini menyaksikan pidato-pidato itu, antara apa yang diucapkan diikuti dengan data. Jadi enak mendengarkan pidatonya dengan gayanya yang khas, kadang-kadang keluar teks,” kata Hinca saat ditemui usai mengikuti Sidang Tahun MPR RI, Sidang Bersama DPR RI-DPD RI dan Rapat Paripurna DPR Tentang RAPBN T.A. 2027 di Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Hinca menilai Presiden konsisten menyampaikan program yang menyentuh masyarakat kecil. Namun, hal yang menurutnya berbeda dalam pidato kali ini adalah kehadiran langsung penerima manfaat untuk memberikan gambaran konkret kepada masyarakat.
“Saya tadi hitung, kalau saya nggak salah ini dua kali minum kopi ya, itu pencairan atau seger gitu ya. Dan kelihatan dia konsisten betul dengan programnya, baik yang menyangkut rakyat kecil lah. Yang buat saya tadi belum pernah saya lihat selama ini adalah mendatangkan bukti konkret anak-anak yang mendapatkan manfaat itu,” tuturnya.
Menurut Hinca, kehadiran penerima manfaat secara langsung menjadi langkah yang baik untuk menjelaskan program pemerintah kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang belum sepenuhnya menerima atau memahami manfaat program tersebut. Serta memberikan nuansa tersendiri. Ia menyoroti salah satu penerima manfaat, yakni seorang anak yang kembali bersekolah sambil mengurus orang tuanya yang sakit serta berprestasi di bidang karate.
“Bahkan tadi ada ibu ya, itu buat saya itu bagus. Bahkan ada satu lagi yang bercanda, tapi pesan moralnya bagus sekali ketika seorang anak kecil yang menggapai kembali sekolahnya, tapi sambil mengurus orang tuanya yang sakit, tapi berprestasi di karate itu satu kan. Terus agak lama dia sedikit, oke nanti sampai band hitam kau ya, baru kau boleh pacaran,” katanya.
Politisi Fraksi Partai Demokrat ini menilai momen tersebut menjadi kejutan yang menyegarkan sekaligus menyampaikan pesan moral kepada anak-anak agar terus bekerja, berkarya, dan meraih cita-cita.
“Karena ini ruang rakyat. Seorang tua kan harus menyatakan itu. Maksud saya kenapa itu segar, selama ini nggak ada itu. Maksud saya disitu, segarnya itu, surprise-nya itu disitu. Karena kejutan-kejutan dihadirkan, ada yang dari Papua,” sambung Hinca.
Ia menyebut penyampaian tersebut juga menunjukkan sisi Presiden sebagai seorang ayah yang menyampaikan pesan secara spontan kepada anak-anak. Pesan itu dapat mewakili perasaan para orang tua kepada anak-anaknya.
“Pak Prabowo kan juga peminat Pencak silat. Jadi tahu betul arti heroik itu. Dan itu mewakili perasaan seluruh bapak dan ibu atau orang tua lah kepada anaknya. Kan harus begitu kita membacanya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hinca menilai Presiden Prabowo berhasil menyampaikan pidato dengan cara yang lebih membumi. Menurutnya, pidato tidak hanya berisi data dan hal-hal yang bersifat ilmiah, tetapi juga menghadirkan pengalaman serta bukti langsung dari masyarakat. (ayu/aha)