
Anggota Komisi IX DPR RI Gamal Albinsaid menyampaikan pandangannya terkait percepatan penanganan stunting saat Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI di Kantor Bupati Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.|Foto: Dipa/Karisma
PARLEMENTARIA, Manggarai Barat — Anggota Komisi IX DPR RI Gamal Albinsaid menilai penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus dilakukan secara menyeluruh dengan menyasar berbagai faktor penyebabnya. Menurutnya, tingginya angka stunting di NTT tidak hanya berdampak pada kondisi fisik anak, tetapi juga mengancam kualitas sumber daya manusia dan produktivitas daerah di masa depan.
“NTT termasuk salah satu provinsi yang memiliki angka stunting sangat tinggi, sekitar 37 persen atau hampir dua kali lipat dari rata-rata nasional. Ini bukan persoalan sederhana karena stunting memiliki dampak yang luar biasa bagi perkembangan anak-anak NTT di masa mendatang,” ujar Gamal usai Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI di Kantor Bupati Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, melainkan memengaruhi perkembangan otak, fungsi organ, hingga kemampuan belajar anak. Bahkan, menurut berbagai penelitian, anak yang mengalami stunting berisiko mengalami penurunan kemampuan kognitif, lebih rentan terhadap penyakit, serta memiliki produktivitas dan pendapatan yang lebih rendah saat dewasa.
“Setiap anak di NTT lahir dengan potensi genetik yang maksimal. Namun stunting membuat mereka tidak dapat mencapai kapasitas dan kompetensi terbaiknya akibat hambatan gizi sejak dini,” tegas Politisi Fraksi PKS tersebut.
Karena itu, Gamal mendorong pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mengatasi berbagai determinan penyebab stunting, seperti rendahnya pemberian ASI eksklusif, ketahanan pangan, sanitasi yang buruk, edukasi kepada ibu, hingga pengendalian kelahiran.
“Kalau kita memahami akar-akar masalah stunting, pemerintah dapat melakukan langkah yang lebih efektif. Penanganannya juga harus melibatkan seluruh sektor secara komprehensif dan holistik,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan anggaran penanganan stunting dan perbaikan aspek water, sanitation, and hygiene (WASH). Menurutnya, tanpa akses air bersih dan sanitasi yang layak, asupan gizi yang diberikan kepada anak tidak akan terserap secara optimal oleh tubuh.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah percepatan penanganan stunting dengan dukungan anggaran yang signifikan. Di saat yang sama, seluruh faktor penyebab stunting di NTT juga harus diselesaikan secara bersamaan,” tutupnya. (dip/aha)