
Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI dengan Menteri Kesehatan RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto : Tari/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta – Pelaksanaan program imunisasi nasional dinilai perlu terus diikuti dengan inovasi yang dapat meningkatkan kenyamanan anak-anak sebagai kelompok penerima vaksin terbesar. Salah satunya melalui pengembangan metode pemberian vaksin yang lebih ramah anak dan tidak selalu menggunakan suntikan.
Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz mengusulkan agar Kementerian Kesehatan mendorong berbagai inovasi dalam metode pemberian vaksin sehingga proses imunisasi menjadi lebih nyaman dan tidak menimbulkan ketakutan pada anak-anak.
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI dengan Menteri Kesehatan RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, mayoritas sasaran program imunisasi merupakan anak-anak dan balita. Karena itu, aspek psikologis anak juga perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program kesehatan tersebut.
“Nah, yang divaksin ini kebanyakan adalah anak-anak. Saya masih ingat dulu waktu SD ketika ada vaksin, anak-anak semua ketakutan. Bahkan ada yang berusaha tidak sekolah kalau tidak dipaksa oleh orang tuanya,” ujar Neng Eem.
Legislator Fraksi PKB itu menilai ketakutan anak-anak bukan pada tujuan vaksinasinya, melainkan pada metode pemberiannya yang identik dengan suntikan. Padahal, menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan memungkinkan hadirnya berbagai inovasi dalam metode pemberian vaksin.
“Divaksin itu sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak karena caranya disuntik. Memasukkan cairan ke dalam tubuh itu kan tidak harus dengan suntik,” katanya.
Ia pun mendorong agar Kementerian Kesehatan bersama para peneliti dan industri farmasi mengembangkan metode yang lebih ramah anak, misalnya dalam bentuk cairan atau metode lain yang lebih mudah diterima.
“Kenapa tidak bagaimana vaksin itu misalnya dalam bentuk cairan atau metode lain. Sehingga anak-anak tidak takut lagi divaksin, mereka merasa nyaman ketika mendapatkan imunisasi,” ujarnya.
Menurut Neng Eem, inovasi dalam pelayanan kesehatan menjadi penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi nasional. Sebab, keberhasilan program imunisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin, tetapi juga oleh penerimaan masyarakat, khususnya anak-anak dan orang tua.
Ia berharap perkembangan teknologi kesehatan dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan metode imunisasi yang lebih efektif, nyaman, dan mudah diterima masyarakat.
“Saya kira ini penting untuk dipikirkan oleh Kementerian Kesehatan agar pelayanan imunisasi semakin baik dan semakin ramah bagi anak-anak,” pungkasnya. (fa/ssb)