E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
TNI|Kesehatan|Infrastruktur|layanan kesehatan|Aspirasi|Imigrasi|Kereta Api|KAI|perlintasan sebidang|WNA|RUU Pangan|Jalan Tol|Bocimi
Jakarta:
Sebagian Cerah
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 79%
Angin: 8 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
TNI|Kesehatan|Infrastruktur|layanan kesehatan|Aspirasi|Imigrasi|Kereta Api|KAI|perlintasan sebidang|WNA|RUU Pangan|Jalan Tol|Bocimi
Jakarta:
Sebagian Cerah
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 79%
Angin: 8 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
TNI|Kesehatan|Infrastruktur|layanan kesehatan|Aspirasi|Imigrasi|Kereta Api|KAI|perlintasan sebidang|WNA|RUU Pangan|Jalan Tol|Bocimi
Jakarta:
Sebagian Cerah
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 79%
Angin: 8 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

Slamet Soroti Diversifikasi Pangan dan Penguatan Kelembagaan Bulog dalam Revisi UU Pangan

Diterbitkan
Minggu, 14 Jun 2026 16.58 WIB
Bagikan:
Slamet Soroti Diversifikasi Pangan dan Penguatan Kelembagaan Bulog dalam Revisi UU Pangan

Anggota Komisi IV DPR RI Slamet, dalam Kunjungan Kerja Komisi IV ke Surakarta, Jawa Tengah.|Foto: Dip/Karisma

PARLEMENTARIA, Surakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Slamet menilai konsep diversifikasi pangan perlu disosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, agar pemahaman mengenai pangan lokal dapat semakin mengakar. Menurutnya, diversifikasi pangan tidak semata dimaknai sebagai penambahan jenis pangan baru, tetapi juga upaya mengembalikan masyarakat pada sumber pangan lokal yang telah menjadi bagian dari sejarah dan budaya bangsa.

“Kalau asumsi diversifikasi pangan adalah memperbanyak jenis pangan selain beras, mungkin istilah ini perlu mulai disosialisasikan kembali, terutama kepada mahasiswa. Kita ingin kembali kepada pangan lokal seperti jagung dan singkong yang memiliki ikatan historis yang kuat dengan masyarakat kita,” ujar Slamet saat ditemui oleh Parlementaria di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (12/6/2026).

Selain isu diversifikasi pangan, ia juga menyoroti perubahan peran Bulog setelah bertransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga memiliki orientasi bisnis. Baginya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam merumuskan sistem kelembagaan pangan ke depan.

“Sekarang yang terjadi karena Bulog bertransformasi menjadi BUMN yang pasti orientasinya adalah keuntungan. Kalau ada penugasan pemerintah, share-nya juga kecil, hitungannya 8 sampai 10 persen,” tuturnya.

Akibatnya, kata Slamet, kemampuan pemerintah untuk melakukan intervensi pasar ketika terjadi gejolak harga menjadi lebih terbatas. “Sehingga begitu harga terjadi gejolak, pemerintah tidak bisa mengendalikan karena memang tidak memegang logistik secara tinggi, setara share-nya di pasarnya,” tambahnya.

Oleh karena itu, ia menilai penting untuk memperjelas posisi Bulog dalam sistem pangan nasional, terutama setelah terbentuknya lembaga pangan yang baru. Menurutnya, masukan dari kalangan akademisi juga banyak menyoroti isu tersebut.

“Ini saya mendapatkan tanggapan dari kampus, bagaimana posisi Bulog ini di saat memang ada badan pangan. Jadi ini penting karena memang kita ingin pemerintah tetap mampu mengendalikan harga pangan,” tuturnya.

Mengakhiri pernyataan, dirinya menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan pangan nasional tidak hanya sebatas mencapai swasembada, tetapi juga memastikan pangan dapat diakses oleh seluruh masyarakat dengan harga yang terjangkau. “Kita ingin swasembada pangan, tapi harga terjangkau juga. Artinya, secara jumlah cukup, tetapi rakyat kita juga dapat menjangkaunya,” tutup Slamet. (DIP/um)

Berita terkait

Soroti Penguatan Lembaga Pangan, Komisi IV Tekankan Pentingnya Dasar Hukum yang Kuat
Industri dan Pembangunan
Soroti Penguatan Lembaga Pangan, Komisi IV Tekankan Pentingnya Dasar Hukum yang Kuat
Peran Barantin Perlu Diperkuat dalam Revisi UU Pangan
News
Peran Barantin Perlu Diperkuat dalam Revisi UU Pangan
Jawab Perubahan Zaman, Model Kurikulum Ideal Perlu Dimasukkan dalam Revisi UU Polri
Politik dan Keamanan
Jawab Perubahan Zaman, Model Kurikulum Ideal Perlu Dimasukkan dalam Revisi UU Polri

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(879)
  • Industri dan Pembangunan(3225)
  • Isu Lainnya(1020)
  • Kesejahteraan Rakyat(3226)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(3925)
  • Populer(417)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

LOKAS
DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK

PODCAST

IKUTI KAMI

Tags:#RUU Pangan
Sebelumnya

Syamsu Rizal: Blind Spot Udara di Indonesia Timur Rawan Intersepsi Pesawat Asing

Kembali ke Berita
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
TNI|Kesehatan|Infrastruktur|layanan kesehatan|Aspirasi|Imigrasi|Kereta Api|KAI|perlintasan sebidang|WNA|RUU Pangan|Jalan Tol|Bocimi
Jakarta:
Sebagian Cerah
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 79%
Angin: 8 km/h