
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI tahun 2026, Dewi Asmara melakukan peninjauan ke Hotel 906 di kawasan Misfalah Sektor 9, Makkah.|Foto: Andri/Septamares
PARLEMENTARIA, Makkah — Pengawasan pelaksanaan ibadah haji tidak hanya menyangkut kelancaran ritual ibadah di Tanah Suci, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar jemaah terpenuhi secara layak. Hal itu ditekankan saat Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI tahun 2026, Dewi Asmara melakukan peninjauan ke Hotel 906 di kawasan Misfalah Sektor 9, Makkah, Jumat (22/05/2026).
Di hotel yang dihuni sekitar 2.000 jemaah asal Jawa Barat tersebut, Dewi menemukan kombinasi antara pelayanan yang dinilai cukup memadai dengan sejumlah persoalan teknis yang masih dikeluhkan jemaah.
Secara umum, fasilitas utama hotel mendapatkan apresiasi. Tersedianya 10 unit lift dinilai membantu mobilitas ribuan jemaah, terutama lansia. Selain itu, keberadaan poliklinik dengan kapasitas pelayanan hingga 150 pasien per hari menjadi penopang penting kesehatan jemaah selama menjalani ibadah.
“Polikliniknya cukup memadai, termasuk obat-obatan dan layanan rujukannya,” ujar Politisi Fraksi Partai Golkar itu.
Namun di balik fasilitas tersebut, terdapat persoalan layanan dasar yang mulai terasa seiring tingginya jumlah penghuni hotel. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas laundry. Dengan hanya tujuh mesin cuci untuk 2.000 jemaah, antrean penggunaan mesin menjadi persoalan sehari-hari.
Masalah lain yang muncul adalah kualitas jaringan internet. Menurut Dewi, banyak jemaah mengeluhkan akses Wi-Fi yang lambat karena tingginya jumlah pengguna. Padahal komunikasi dengan keluarga di Indonesia menjadi kebutuhan penting bagi jemaah selama berada di Tanah Suci.
Di sisi lain, Dewi melihat solidaritas antarjemaah justru tumbuh cukup kuat. Sejumlah kelompok jemaah dari Bekasi, Sukabumi, dan daerah lain membentuk kelompok layanan mandiri untuk saling membantu kebutuhan sesama anggota rombongan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kenyamanan jemaah tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik hotel, tetapi juga oleh kekompakan sosial antarjemaah selama menjalani ibadah.
Timwas Haji DPR RI juga menerima keluhan mengenai koper jemaah yang rusak selama perjalanan. Sebagian jemaah ingin mengganti koper, tetapi terkendala aturan pengangkutan bagasi yang masih menjadi kewenangan maskapai penerbangan.
Meski menerima berbagai masukan, Dewi menilai pelayanan petugas sektor cukup responsif. Keluhan terkait kebersihan kamar, pergantian sprei, hingga kebutuhan harian jemaah disebut dapat ditangani dengan cepat oleh petugas hotel maupun cleaning service.
“Kalau ada keluhan langsung ditangani cukup sigap,” katanya.
Bagi Timwas Haji DPR RI, berbagai persoalan tersebut menjadi catatan penting bahwa kualitas penyelenggaraan haji tidak hanya diukur dari tersedianya akomodasi, tetapi juga sejauh mana layanan dasar mampu menyesuaikan kebutuhan ribuan jemaah Indonesia di Tanah Suci. (man/rdn)