E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
DPR RI|APBN|OJK|UMKM|Rapat Paripurna|Prabowo|Harkitnas|RAPBN 2027|KEM PPKF|Pidato Presiden|Haji|timwas haji|Pendidikan
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 74%
Angin: 4 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
DPR RI|APBN|OJK|UMKM|Rapat Paripurna|Prabowo|Harkitnas|RAPBN 2027|KEM PPKF|Pidato Presiden|Haji|timwas haji|Pendidikan
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 74%
Angin: 4 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
DPR RI|APBN|OJK|UMKM|Rapat Paripurna|Prabowo|Harkitnas|RAPBN 2027|KEM PPKF|Pidato Presiden|Haji|timwas haji|Pendidikan
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 74%
Angin: 4 km/h
/
/
Berita/Kesejahteraan Rakyat

Pengemasan Narasi Sejarah Bantu Kembangkan Peninggalan Sejarah Cirebon

Diterbitkan
Kamis, 21 Mei 2026 17.45 WIB
Bagikan:
Pengemasan Narasi Sejarah Bantu Kembangkan Peninggalan Sejarah Cirebon

Anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati, saat mengikuti kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI di Keraton Kasepuhan|Foto: Ysm/Karisma

PARLEMENTARIA, Cirebon — Anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati menekankan pentingnya peran akademisi dan penguatan narasi sejarah dalam mendukung pelestarian cagar budaya di Kota Cirebon. Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Cirebon tidak cukup hanya dijaga secara fisik, tetapi juga harus mampu dikembangkan melalui pengemasan cerita sejarah yang kuat agar memiliki nilai edukasi, ekonomi, dan daya tarik wisata yang berkelanjutan.


“Kalau kita mau memajukan Cirebon dan membuat kebudayaan atau peninggalan sejarah itu bernilai, bermanfaat, dan bisa menghidupi dirinya sendiri, maka kita harus menciptakan paket wisata yang berkualitas,” ujar Dewi saat mengikuti kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI di Keraton Kasepuhan, Kamis (21/5/2026).


Menurutnya, salah satu kekuatan utama kawasan heritage di Cirebon terletak pada kekayaan kisah sejarah dan budaya yang dimiliki setiap keraton maupun situs bersejarah. Karena itu, pengembangan wisata budaya harus didukung kemampuan mengemas narasi sejarah secara menarik agar masyarakat dan wisatawan tidak hanya melihat bangunan bersejarah, tetapi juga memahami nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.

Lihat Juga :

Panja Pelestarian Cagar Budaya Kunjungi Peninggalan Sejarah di Toraja

Panja Pelestarian Cagar Budaya Kunjungi Peninggalan Sejarah di Toraja

Perlu Sinergi Pendanaan untuk Pelestarian Cagar Budaya Cirebon

Perlu Sinergi Pendanaan untuk Pelestarian Cagar Budaya Cirebon


“Nanti bisa dibuat wisata religi, wisata budaya, dan sebagainya. Kekuatannya harus di pengemasan narasi sejarah, kemudian harus ada pemasaran yang masif dan terus-menerus disuarakan sehingga orang akan ingat, kalau mau wisata religi ya ke Cirebon saja,” katanya.


Dewi menilai penguatan narasi sejarah menjadi elemen penting dalam memperkuat daya tarik kawasan cagar budaya di tengah persaingan destinasi wisata saat ini. Penyampaian sejarah yang kuat dinilai mampu membangun pengalaman wisata yang lebih hidup, emosional, dan edukatif bagi pengunjung. Selain itu, pendekatan tersebut juga dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia internasional.


Ia menjelaskan, potensi wisata budaya Cirebon sangat besar karena dapat dikembangkan secara terintegrasi dengan wisata religi dan kuliner khas daerah. Menurutnya, wisatawan yang datang ke kawasan keraton tidak hanya menikmati sejarah dan budaya, tetapi juga dapat merasakan pengalaman sosial dan budaya masyarakat lokal melalui kuliner seperti nasi jamblang, soto aput, dan tahu gejrot.


Dalam konteks penguatan pelestarian budaya tersebut, Dewi menyoroti pentingnya keterlibatan akademisi dan perguruan tinggi. Ia menilai akademisi memiliki peran strategis untuk menggali, mendokumentasikan, meneliti, sekaligus memperkuat kajian ilmiah mengenai sejarah dan budaya yang dimiliki kawasan cagar budaya di Cirebon.


“Maka di tempat-tempat itu harus ada inovasi untuk bisa membiayai diri sendiri. Di sini peran akademisi sangat penting sekali,” ujarnya.


Menurut Dewi, keterlibatan akademisi tidak hanya sebatas penelitian sejarah, tetapi juga mencakup kajian budaya, arsitektur, teknologi bangunan tradisional, hingga pengembangan model pelestarian heritage berbasis edukasi dan ekonomi kreatif. Ia menilai kawasan keraton di Cirebon memiliki banyak potensi penelitian yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah nasional maupun internasional.


“Banyak sekali hal-hal yang bisa dijadikan tulisan untuk jurnal scopus, jurnal internasional maupun penelitian budaya. Bayangkan dinding di keraton itu sangat kuat sampai hari ini. Itu bisa diteliti bagaimana kekuatan suatu bangunan,” tuturnya.


Ia menjelaskan, hasil penelitian akademik dapat menjadi dasar penting dalam mendukung kebijakan pelestarian cagar budaya yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Kajian ilmiah tersebut juga dapat membantu proses revitalisasi bangunan heritage agar tetap mempertahankan nilai autentik dan sejarahnya.


Selain itu, Dewi menilai akademisi memiliki peran besar dalam memperkuat dokumentasi budaya melalui publikasi ilmiah, digitalisasi arsip sejarah, hingga penyusunan materi edukasi budaya yang lebih mudah dipahami generasi muda. Dengan pendekatan tersebut, pelestarian cagar budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan nasional.


Karena itu, Dewi mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, pengelola keraton, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat dalam mengembangkan kawasan heritage berbasis riset dan penguatan narasi sejarah. Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar cagar budaya tidak hanya menjadi simbol sejarah masa lalu, tetapi juga mampu memberikan manfaat pendidikan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat. (ysm/aha)

Berita terkait

Panja Pelestarian Cagar Budaya Kunjungi Peninggalan Sejarah di Toraja
Kesejahteraan Rakyat
Panja Pelestarian Cagar Budaya Kunjungi Peninggalan Sejarah di Toraja
Perlu Sinergi Pendanaan untuk Pelestarian Cagar Budaya Cirebon
Kesejahteraan Rakyat
Perlu Sinergi Pendanaan untuk Pelestarian Cagar Budaya Cirebon
Profesionalitas Tenaga Ahli Cagar Budaya Jadi Kunci Pelestarian Warisan Budaya
Kesejahteraan Rakyat
Profesionalitas Tenaga Ahli Cagar Budaya Jadi Kunci Pelestarian Warisan Budaya
Tags:#Pariwisata#Cagar Budaya#Kebudayaan
Sebelumnya

Komisi V Minta Alokasi Anggaran Pembenahan Keselamatan Kereta Jadi Prioritas

Selanjutnya

KPPRI: Komitmen Perempuan Indonesia Perjuangkan Kepentingan Masyarakat Luas

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(842)
  • Industri dan Pembangunan(3065)
  • Isu Lainnya(1008)
  • Kesejahteraan Rakyat(3028)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(3713)
  • Populer(417)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Lomba Foto Kreatif SAPA Sayembara Parlementaria
LOKAS

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
DPR RI|APBN|OJK|UMKM|Rapat Paripurna|Prabowo|Harkitnas|RAPBN 2027|KEM PPKF|Pidato Presiden|Haji|timwas haji|Pendidikan
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 74%
Angin: 4 km/h