
Anggota Komisi IX DPR RI Maharani, dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Kota Medan.| Foto: Jih/Karisma
PARLEMENTARIA, Medan — Perhatian terhadap penanganan penyakit Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS selama ini kerap kali hanya berfokus pada aspek penyembuhan fisik. Padahal, para pasien juga rentan mengalami tekanan psikologis berat akibat lingkungan sekitar yang belum sepenuhnya menerima kondisi mereka.
Anggota Komisi IX DPR RI Maharani, bersama tim Komisi IX menekankan bahwa aspek kesehatan mental pasien dengan penyakit menular ini sering kali luput dari kebijakan prioritas pemerintah maupun fasilitas kesehatan. Menurutnya, penderita tidak hanya berjuang melawan virus dan bakteri di dalam tubuhnya, tetapi juga harus menahan beban psikologis akibat pengucilan di lingkungan sekitar.
“Ini yang mungkin sering luput dari perhatian kita, mengenai aspek kesehatan jiwa dari pasien TB maupun HIV. Selama ini mereka mungkin mengalami dependence ekologis atau stigma negatif,” ungkap Maharani dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Kota Medan, Sumatera Utara pada Kamis (21/5/2026) menyoroti hal tersebut.
Lebih lanjut, Ia memaparkan bahwa stigma negatif dari masyarakat bisa memicu gangguan psikologis kronis seperti stres, kecemasan, hingga depresi berat. Bahkan dalam kondisi yang ekstrem, tekanan sosial tersebut berpotensi meningkatkan risiko percobaan bunuh diri pada pasien. Maharani pun mengingatkan bahwa dampak psikologis ini bisa berakibat fatal secara instan.
Mengingat bahaya tersebut, Maharani mendorong agar pemeriksaan psikologis dasar diintegrasikan langsung ke dalam alur pengobatan pasien secara gratis dan merata. “Mereka pasti (menghadapi) stigma negatif dari masyarakat ini,” tambah Maharani.
Langkah screening berkala yang meliputi asesmen depresi, kecemasan, serta konseling rutin dinilai sangat krusial. Pasalnya, pasien yang mengalami tekanan mental yang hebat cenderung memiliki tingkat kepatuhan yang rendah dalam mengonsumsi obat. Padahal, kunci utama keberhasilan terapi TB dan HIV/AIDS sangat bergantung pada konsistensi pasien dalam menjalani pengobatan tanpa putus demi mencapai remisi.
Di sisi lain, politisi tersebut juga mengingatkan bahwa pembenahan dari sisi medis tidak akan cukup tanpa adanya edukasi masif kepada masyarakat luas. Upaya mereduksi stigma sosial harus dilaksanakan bersama Pemerintah agar pasien tidak merasa dikucilkan dan memiliki ruang aman untuk pulih secara utuh.
Pendekatan holistik yang menggabungkan pengobatan fisik dan dukungan mental ini dinilai sejalan dengan strategi besar pemerintah dalam mengejar target eliminasi TB dan HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2030 mendatang. (jih/aha)