Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, dalam kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI, di Yogyakarta.
PARLEMENTARIA, Yogyakarta - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menegaskan bahwa BUMN tidak boleh hanya fokus pada keindahan estetika kawasan, tetapi harus aktif mencarikan solusi pemasaran bagi produk-produk lokal. Menurutnya, meski penataan fisik kawasan Borobudur dinilai sudah sangat rapi, Andre menilai manfaat ekonominya belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat sekitar.
"Tentu tadi saya mengkritisi soal pembenahan Candi Borobudur itu sudah bagus, tidak ada lagi spot-spot yang jelek, yang kotor, walaupun kumuh semua sudah rapi, tertata. Tapi memang kami dapat laporan bagaimana UMKM di sana belum optimal dalam memasarkan produknya," tegas Andre dalam kunjungan kerja reses Komisi VI DPR RI, di Yogyakarta, Rabu (22/4/2026).
Sebagai langkah tegas dalam fungsi pengawasan, Komisi VI DPR RI lanjut Andre memberikan tenggat waktu (deadline) selama tiga bulan kepada pihak TWC untuk segera merumuskan solusi konkret bagi masyarakat sekitar. Hal ini mencakup perbaikan skema pemasaran produk UMKM agar pertumbuhan ekonomi selaras dengan kemegahan destinasi wisata.
"Kita kasih deadline 3 bulan bagi TWC untuk segera berkomunikasi dan mencarikan solusinya. Sehingga tujuannya BUMN ini bisa hadir untuk meningkatkan ekonomi masyarakat itu bisa terwujud," pungkas Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.
Disamping itu, Andre menekankan pentingnya peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pariwisata dalam memperkuat fondasi ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu yang menjadi sorotan positif adalah langkah revitalisasi Grand Hotel De Djokja (Hotel Garuda) di Yogyakarta. Ia berharap transformasi ini mampu memperkuat infrastruktur pariwisata sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.
"Hotel Garuda yang direnovasi besar-besaran ini bertransformasi kembali menjadi hotel dengan nama asli saat didirikan di 1911. Hal ini diharapkan bisa menambah jumlah kamar di Yogyakarta sebanyak 210 kamar dan juga menambah lapangan pekerjaan baru," tutur Andre usai pertemuan.
Politisi Dapil Sumatera Barat I ini juga menjelaskan bahwa saat ini sedang dilakukan kajian mendalam terkait rencana PT Hotel Indonesia Natour (HIN) yang ditugaskan melakukan konsolidasi terhadap 120 hotel milik BUMN. Konsolidasi ini diharapkan mampu menciptakan sinergi operasional, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat posisi pasar hotel BUMN.
Ia menekankan bahwa efisiensi pengelolaan melalui Injourney dan HIN harus berdampak langsung pada produktivitas destinasi wisata utama seperti Candi Borobudur dan Prambanan. “Kita diskusi bagaimana produktivitas Candi Borobudur dan Prambanan dan juga Candi Boko untuk menopang pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Andre menyampaikan bahwa tujuan utama keberadaan BUMN pariwisata adalah hadir untuk rakyat. Ia meminta TWC, HIN, dan Injourney untuk memastikan bahwa produktivitas Candi Borobudur, Prambanan, hingga Candi Boko mampu menopang pertumbuhan ekonomi Yogyakarta secara inklusif, bukan sekadar mengejar keuntungan korporasi semata. (tra/um)