
Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam.
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam menyoroti kinerja PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) yang dinilai belum optimal, terutama jika dibandingkan dengan besarnya aset yang dimiliki perusahaan. Ia menilai, capaian laba perusahaan saat ini tidak sebanding dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan jajaran direksi SIG, Mufti mengungkapkan bahwa dengan total aset mencapai sekitar Rp76 triliun, laba bersih perusahaan yang hanya sekitar Rp191 miliar dinilai terlalu kecil. Kondisi ini, menurutnya, mencerminkan adanya persoalan mendasar dalam efisiensi dan pengelolaan perusahaan.
“Dengan aset sebesar itu, tapi laba hanya Rp191 miliar, ini tentu menjadi perhatian kita. Artinya ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan dan efisiensi perusahaan,” ujar Mufti di Ruang Rapat Komisi VI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Mufti juga membandingkan kinerja SIG dengan perusahaan swasta di sektor yang sama. Ia menyebut, meskipun kapasitas produksi dan pendapatan SIG lebih besar, namun laba yang dihasilkan justru jauh tertinggal dibandingkan kompetitor.
“Kalau kita bandingkan, kapasitas produksi SIG jauh lebih besar, pendapatannya juga lebih tinggi. Tapi laba bersihnya justru sangat kecil, bahkan kalah jauh dari perusahaan lain yang skalanya lebih kecil,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang ia pelajari, perusahaan swasta di industri semen mampu mencatatkan laba hingga puluhan kali lipat dibandingkan SIG, meskipun memiliki kapasitas produksi dan pendapatan yang lebih rendah. Hal ini dinilai sebagai indikator kuat adanya inefisiensi dalam struktur biaya SIG.
“Kita melihat ada perbedaan yang sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa efisiensi menjadi persoalan utama yang harus segera dibenahi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Legislator Fraksi PDI-Perjuangan itu juga menyoroti tingginya biaya produksi SIG yang mencapai kisaran Rp730 ribu hingga Rp800 ribu per ton, yang dinilai lebih tinggi dibandingkan kompetitor. Bahkan, ia menyebut sekitar 50 persen dari biaya tersebut berasal dari komponen energi dan logistik.
“Biaya produksi yang tinggi ini harus menjadi perhatian serius, karena akan berdampak langsung pada daya saing perusahaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sebagai BUMN, SIG tidak hanya dituntut untuk besar secara aset, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata, baik dalam bentuk laba maupun manfaat bagi masyarakat.
“BUMN harus bisa menunjukkan kinerja yang optimal, bukan hanya besar secara aset, tapi juga kuat secara keuntungan dan kontribusi,” pungkasnya. (fa/aha)