
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke kawasan industri furnitur di Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/01/2029). Foto: UC/Mahendra.
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay menekankan bahwa aspek regulasi menjadi perhatian penting, seiring dengan upaya DPR dalam memperkuat kerangka kebijakan bagi sektor industri. Menurutnya, Komisi VII saat ini tengah membentuk panitia kerja (panja) yang secara khusus membahas standardisasi industri.
“Yang menjadi fokus perhatian kita yang terakhir dari sisi regulasi. Kita juga ingin menyempurnakan regulasi karena sekarang di DPR kami sedang membentuk panja, yaitu panja standarisasi industri,” ujar Saleh yang juga bertugas di Badan legislasi DPR RI.
Hadir dalam kesempatan tersebut stakeholder industri furnitur di wilayah Banten serta perwakilan dari Pemerintah Provinsi Banten dan kementerian perindustrian. Adapun pelaku industri furnitur yang hadir seperti PT Gema Graha Sarana atau yang dikenal dengan jenama Vivere dan PT Sejin Lestari Furnitur.
Ia menyampaikan bahwa berbagai masukan dari pelaku industri dalam kunjungan kerja tersebut akan menjadi bahan referensi dan rekomendasi Komisi VII DPR RI dalam memperbaiki kebijakan. Penyempurnaan regulasi dinilai penting agar industri memiliki kepastian standar yang mendukung kualitas, efisiensi, dan daya saing.
“Kita berharap bahwa dengan masukan-masukan yang diberikan tadi itu menjadi referensi dan rekomendasi dari Komisi VII untuk nanti menyempurnakan regulasi-regulasi,” lanjut politisi Fraksi PAN itu.
Selain regulasi, Saleh juga menyoroti pentingnya penguasaan kanal distribusi, baik melalui toko fisik maupun platform daring. Perdagangan berbasis digital dinilai membuka peluang besar, namun sekaligus menghadirkan tantangan persaingan yang semakin ketat.
“Bagaimana persaingan dagang yang ada? Ya baik itu dagang yang langsung di toko maupun yang toko online. Karena toko online ini kan tidak ada batas ruang dan waktu, karena itu jangan sampai kita kalah,” katanya.
Menurutnya, industri nasional perlu memastikan tidak tertinggal di berbagai aspek, mulai dari kualitas produk, strategi pemasaran, hingga pemanfaatan kanal digital. Kesiapan menghadapi persaingan di berbagai platform dipandang sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri.
Saleh juga mendorong peran perusahaan besar dalam memperkuat ekosistem industri melalui kemitraan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keterlibatan UMKM dinilai penting agar pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Dan mudah-mudahan kami dari Komisi VII berharap Vivere ini bisa juga menggeret perusahaan-perusahaan UMKM yang ada sehingga dengan demikian mereka tidak melejit sendiri sebagai perusahaan besar, tapi juga menggeret perusahaan-perusahaan kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan UMKM berpotensi memperluas penciptaan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, dampak ekonomi dari pertumbuhan industri furnitur dapat dirasakan lebih merata.
“Jadi penciptaan lapangan pekerjaan bukan hanya oleh Vivere-nya, tapi nanti oleh UMKM-UMKM itu. Jadi dengan begitu dampak ekonominya bisa semakin terasa di masyarakat kita,” pungkas Saleh.
Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi VII DPR RI menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerangka regulasi, mendorong standardisasi industri, serta memperluas kemitraan dengan UMKM sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem industri furnitur nasional agar lebih tangguh dan berdaya saing. •uc/rdn