E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
RUU Masyarakat Adat|NTB|hakim agung|hakim adhoc|miras|Garut|Gili Meno|Newport|RUU Perampasan Aset|sekolah|karhutla|Potensi Lokal|Temuan Senjata Api
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 72%
Angin: 4 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Biro Pemberitaan Parlemen Sekretariat Jenderal DPR RI - Gedung Nusantara II Lt.2, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta – Indonesia 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
RUU Masyarakat Adat|NTB|hakim agung|hakim adhoc|miras|Garut|Gili Meno|Newport|RUU Perampasan Aset|sekolah|karhutla|Potensi Lokal|Temuan Senjata Api
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 72%
Angin: 4 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
RUU Masyarakat Adat|NTB|hakim agung|hakim adhoc|miras|Garut|Gili Meno|Newport|RUU Perampasan Aset|sekolah|karhutla|Potensi Lokal|Temuan Senjata Api
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 72%
Angin: 4 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

Soroti Audit Tata Ruang Pariwisata Nasional dan Standar Keselamatan Wisata

Diterbitkan
Rabu, 21 Jan 2026 14.43 WIB
Bagikan:
Soroti Audit Tata Ruang Pariwisata Nasional dan Standar Keselamatan Wisata

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata RI, Senayan Jakarta, Rabu (21/1/2026). Foto: Farhan/Karisma.

PARLEMENTARIA, Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan perlunya audit dan pemetaan tata ruang pariwisata secara nasional sebagai langkah mendesak untuk mencegah kerusakan lingkungan serta konflik pemanfaatan ruang di berbagai destinasi wisata Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Evita dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata RI, Senayan Jakarta, Rabu (21/1/2026), yang membahas evaluasi kinerja dan program Kementerian Pariwisata tahun 2025 serta rencana program kerja tahun 2026.

Menurut Evita, berbagai persoalan pariwisata yang mencuat belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari lemahnya perencanaan tata ruang nasional, khususnya di kawasan pariwisata. Ia menilai pemerintah selama ini cenderung bertindak setelah terjadi kerusakan, bukan melalui pencegahan sejak awal.

“Kita sudah belajar dari berbagai kejadian sebelumnya, seperti yang terjadi di Raja Ampat. Sudah terjadi kerusakan, baru kemudian api dipadamkan. Padahal akar persoalannya adalah tata ruang,” ujar Politikus PDIP tersebut.

Ia menyoroti belum adanya pemetaan tata ruang pariwisata nasional yang terintegrasi, sehingga banyak kawasan wisata justru berdampingan langsung dengan aktivitas industri. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan limbah yang pada akhirnya merugikan sektor pariwisata itu sendiri.

“Tidak ada orang yang mau datang ke destinasi secantik apapun kalau sudah terpolusi. Ini realitas yang harus kita hadapi,” tegasnya.

Evita mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menutup empat tambang nikel serta kebijakan moratorium pembangunan resort di Pulau Padar, Lombok. Namun, ia menilai kebijakan tersebut tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang jika tidak dibarengi sistem tata ruang yang kuat dan menyeluruh.

“Kita tentu berterima kasih atas langkah-langkah tersebut. Tapi tidak bisa terus-menerus kita bertindak parsial. Harus ada pemetaan tata ruang pariwisata secara nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Evita mendorong Kementerian Pariwisata untuk mengambil peran kepemimpinan (leading sector) dalam penyusunan tata ruang pariwisata nasional. Ia menilai selama ini kementerian lebih banyak berposisi sebagai pengguna ruang, bukan perancang atau pengendali pemanfaatan ruang pariwisata.

“Ke depan, Kementerian Pariwisata tidak bisa hanya menjadi pengguna ruang. Harus ikut memetakan ruang pariwisata itu sendiri, tentu dengan melibatkan kementerian dan lembaga terkait,” ujarnya.

Selain tata ruang, Evita juga menyoroti isu keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan pariwisata sebagai persoalan strategis yang perlu mendapat perhatian serius. Ia menilai masih banyak insiden wisata, khususnya di kawasan ekstrem seperti wisata bahari dan wisata gunung, yang menunjukkan lemahnya standar keselamatan.

Evita mengungkapkan pengalamannya secara langsung saat melakukan wisata bahari, di mana tidak ada kewajiban penggunaan life vest saat menaiki speedboat, serta tidak adanya peringatan cuaca sebelum pelayaran. “Cuaca sudah tidak baik, tapi tidak ada larangan berlayar. Kita tetap berangkat dan akhirnya terdampar di tengah laut. Ini pengalaman saya sendiri,” ungkapnya.

Hal serupa juga ia temukan pada wisata darat di kawasan pegunungan. Menurutnya, kendaraan wisata seperti jeep di kawasan Bromo tidak mewajibkan penggunaan sabuk pengaman, meskipun memiliki risiko keselamatan yang tinggi. “Hal-hal seperti ini belum menjadi kewajiban, padahal risikonya besar,” kata Evita.

Ia juga menyoroti kompetensi pemandu wisata yang dinilai belum seluruhnya memenuhi standar keselamatan. Evita menilai pelatihan saja tidak cukup tanpa disertai sertifikasi yang jelas dan mengikat, terutama untuk wisata berisiko tinggi seperti diving.

“Ada pemandu wisata yang tidak memiliki sertifikasi diving master, tapi tetap menjadi pemandu. Ini berbahaya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Evita mendorong penyusunan standar nasional keselamatan dan keamanan pariwisata yang bersifat wajib dan mengikat. Ia meminta Kementerian Pariwisata mengambil peran utama dalam perumusan standar tersebut sebagai bagian dari agenda strategis ke depan.

“Kalau kita bicara pariwisata, yang utama itu keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan. Ini harus menjadi fondasi,” tegasnya.

Rapat kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata tersebut menjadi bagian dari pengawasan DPR terhadap arah kebijakan dan program pariwisata nasional agar lebih berkelanjutan, aman, dan berorientasi pada perlindungan lingkungan serta keselamatan wisatawan. •bit/aha

Berita terkait

Kebijakan Izin Pusat Melangkahi Daerah Picu Sengkarut Tata Ruang dan Banjir di Bali
Politik dan Keamanan
Kebijakan Izin Pusat Melangkahi Daerah Picu Sengkarut Tata Ruang dan Banjir di Bali
Banjir Jadi Siklus Tahunan, Komisi VIII Soroti Tata Ruang dan Normalisasi Sungai Kota Medan
Kesejahteraan Rakyat
Banjir Jadi Siklus Tahunan, Komisi VIII Soroti Tata Ruang dan Normalisasi Sungai Kota Medan
Legislator Soroti Overlapping Kebijakan Tata Ruang dan Kriminalisasi Nelayan di Karimun
Industri dan Pembangunan
Legislator Soroti Overlapping Kebijakan Tata Ruang dan Kriminalisasi Nelayan di Karimun
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi VII
Sebelumnya

Sabam Sinaga Minta Kemenbud Berdayakan Film yang Angkat Budaya Lokal

Selanjutnya

Saadiah Uluputty: Mahalnya Tiket Pesawat Domestik Hambat Konektivitas Nasional

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(1057)
  • Industri dan Pembangunan(3703)
  • Isu Lainnya(1053)
  • Kesejahteraan Rakyat(3704)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4587)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Syarat dan Ketentuan Umum
Majalah Parlementaria Edisi 258

Link Flipbook : https://online.anyflip.com/fhwbw/fndh/mobile/index.html

Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI
Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
RUU Masyarakat Adat|NTB|hakim agung|hakim adhoc|miras|Garut|Gili Meno|Newport|RUU Perampasan Aset|sekolah|karhutla|Potensi Lokal|Temuan Senjata Api
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 72%
Angin: 4 km/h