E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
miras|Newport|Promosi Miras|Sidang Tahunan|Sidang Bersama|Marwah Lembaga|energi|WNI|petani|impor|RUU Ketenagakerjaan|PPPK|Bank Indonesia
Jakarta:
Cerah
29°C
Terasa: 32°C
Lembab: 66%
Angin: 13 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Biro Pemberitaan Parlemen Sekretariat Jenderal DPR RI - Gedung Nusantara II Lt.2, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta – Indonesia 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
miras|Newport|Promosi Miras|Sidang Tahunan|Sidang Bersama|Marwah Lembaga|energi|WNI|petani|impor|RUU Ketenagakerjaan|PPPK|Bank Indonesia
Jakarta:
Cerah
29°C
Terasa: 32°C
Lembab: 66%
Angin: 13 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
miras|Newport|Promosi Miras|Sidang Tahunan|Sidang Bersama|Marwah Lembaga|energi|WNI|petani|impor|RUU Ketenagakerjaan|PPPK|Bank Indonesia
Jakarta:
Cerah
29°C
Terasa: 32°C
Lembab: 66%
Angin: 13 km/h
/
/
Berita/Kesejahteraan Rakyat

Mudik yang Tak Terjadi, Doa yang Tetap Dipanjatkan

Diterbitkan
Rabu, 31 Des 2025 10.42 WIB
Bagikan:
Mudik yang Tak Terjadi, Doa yang Tetap Dipanjatkan

Suasana Natal dan Tahun baru. Foto: Jka/Karisma.

PARLEMENTARIA, Jakarta – Malam Natal tahun ini terasa lebih hening di rumah kontrakan sempit di pinggiran Kalimalang, Cipinang, Jakarta Timur. Di atas meja makan, lilin kecil menyala menggantikan pohon Natal yang tak sempat dibeli. Maria (38) menata piring dengan rapi, sementara dua anaknya duduk berhadapan, menunggu ayah mereka yang hanya bisa hadir lewat layar ponsel.

Suaminya, Anton, bekerja sebagai buruh bangunan di Surabaya. Biasanya, Natal dan Tahun Baru menjadi satu-satunya momen pulang kampung. Namun Nataru 2025 berbeda. Harga tiket pesawat melonjak bekali lipat, tiket kereta penuh sejak jauh hari, sementara cuti kerja Anton tak bisa diperpanjang.

“Kami sempat hitung-hitungan,” ujar Maria pelan. “Kalau pulang, gaji bulan depan habis hanya untuk ongkos.”

Pilihan itu terasa kejam, tapi terpaksa diambil.

Lonjakan Harga, Pilihan yang Menyempit

Cerita keluarga Maria bukan satu-satunya. Di berbagai kota, banyak keluarga kelas menengah ke bawah menghadapi dilema serupa: pulang kampung atau bertahan di perantauan. Bagi mereka, Natal dan Tahun Baru bukan sekadar libur panjang, melainkan momen pulang—mengikat kembali rasa keluarga yang terpisah jarak dan waktu.

Namun, lonjakan harga tiket transportasi selama Nataru 2025 membuat ruang pilihan semakin sempit. Di terminal, bandara, hingga pelabuhan, wajah-wajah lelah menyimpan cerita yang sama: keinginan pulang yang tertahan oleh angka di layar pemesanan.

Rina (27), pekerja ritel di Bandung, mengaku baru pertama kali merayakan Tahun Baru sendirian. “Biasanya saya pulang ke Garut. Tahun ini tiket bus saja naik hampir dua kali lipat. Saya memilih kirim uang saja ke orang tua,” katanya.

Bagi sebagian orang, keputusan bertahan bukan soal tidak rindu, melainkan soal bertahan hidup setelah libur usai.

Anak-anak dan Rindu yang Tak Tertulis

Dampak paling sunyi dari mahalnya tiket sering kali dirasakan anak-anak. Mereka belajar memahami keadaan sebelum waktunya.

“Papa kerja jauh supaya kita bisa sekolah,” kata Samuel (9), anak Maria, saat ditanya mengapa ayahnya tidak pulang. Kalimat itu terdengar dewasa untuk usia seusianya.

Psikolog keluarga mencatat, momen kebersamaan seperti Natal dan Tahun Baru memiliki makna emosional besar bagi anak. Ketidakhadiran orang tua, meski dipahami secara rasional, tetap menyisakan ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Namun keluarga-keluarga ini memilih bertahan, merayakan dengan cara sederhana, dan menyimpan rindu sebagai bagian dari perjuangan.

Suara Sunyi yang Jarang Terdengar

Di tengah narasi arus mudik, kemacetan, dan lonjakan wisata, ada suara-suara sunyi yang jarang masuk pemberitaan: mereka yang tidak jadi mudik. Mereka tidak tercatat dalam angka pergerakan penumpang, tetapi keberadaannya nyata.

Bagi publik seperti Maria, kebijakan transportasi saat Nataru bukan sekadar angka statistik. Ia hadir langsung di meja makan, di layar ponsel, dan dalam keputusan-keputusan kecil yang berdampak besar bagi keutuhan keluarga.

“Kami tidak minta murah sekali,” ujar Maria. “Kalau bisa terjangkau saja, supaya kami bisa pulang.”

Refleksi Akhir Tahun: Hadirnya Negara di Momen Paling Pribadi

Natal dan Tahun Baru adalah momen paling personal bagi banyak keluarga Indonesia. Ketika harga tiket melonjak tanpa kendali, yang dipertaruhkan bukan hanya mobilitas, tetapi juga kebersamaan dan kesehatan emosional keluarga.

Di sinilah suara publik menemukan maknanya sebagai bahan refleksi kebijakan. Negara—melalui regulasi, pengawasan, dan keberpihakan—diharapkan hadir bukan hanya menjaga arus lalu lintas, tetapi juga memastikan keadilan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.

Di rumah kontrakan itu, Maria dan anak-anaknya menutup malam Natal dengan doa sederhana: kesehatan, pekerjaan yang cukup, dan harapan bisa pulang bersama tahun depan.

Mudik boleh sunyi tahun ini. Tapi harapan, mereka jaga agar tetap hidup.

Cerita-cerita semacam ini juga sampai ke telinga wakil rakyat. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Samsurijal, misalnya, menilai lonjakan harga tiket saat Nataru bukan sekadar persoalan teknis transportasi, melainkan menyentuh langsung kehidupan keluarga.

“Bagi sebagian masyarakat, mudik saat Natal dan Tahun Baru bukan liburan, tapi kebutuhan batin untuk bertemu keluarga. Ketika tiket menjadi terlalu mahal, yang hilang bukan hanya perjalanan, tetapi juga momen kebersamaan yang sangat berarti,” ujar Cucun.

Menurutnya, negara tidak boleh abai terhadap dampak sosial dari kebijakan transportasi musiman.

“Kita harus mendengar suara keluarga-keluarga yang memilih tidak pulang karena biaya. Ini menjadi catatan penting bagi DPR untuk mendorong pengawasan yang lebih kuat agar kebijakan transportasi saat Nataru benar-benar berpihak pada rakyat,” katanya.

Cucun menegaskan, kehadiran negara seharusnya terasa justru pada momen-momen paling personal masyarakat.

“Tugas kami di DPR adalah memastikan negara hadir, bukan hanya mengatur arus kendaraan, tetapi juga menjaga agar akses pulang kampung tetap adil dan manusiawi bagi semua lapisan,” tuturnya. •ssb/rdn

Berita terkait

Stop Pemborosan Negara, Tutup BUMD yang Tak Beraktivitas Lagi
Ekonomi dan Keuangan
Stop Pemborosan Negara, Tutup BUMD yang Tak Beraktivitas Lagi
Lima Aspek Utama Mudik yang Berdampak Besar bagi Masyarakat, Apa Saja?
Ekonomi dan Keuangan
Lima Aspek Utama Mudik yang Berdampak Besar bagi Masyarakat, Apa Saja?
PRT Jadi Profesi Rentan yang Tak Dapat Perlindungan
Politik dan Keamanan
PRT Jadi Profesi Rentan yang Tak Dapat Perlindungan
Tags:#Seputar Parlemen
Sebelumnya

Adang Daradjatun Soroti Kesiapan Aparat Penegak Hukum Menyongsong KUHP dan KUHAP Baru

Selanjutnya

Shadiq Pasadigoe: Sambut Tahun Baru dengan Penuh Empati, Kesederhanaan, dan Kepedulian Sosial

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(1056)
  • Industri dan Pembangunan(3703)
  • Isu Lainnya(1053)
  • Kesejahteraan Rakyat(3704)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4586)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Syarat dan Ketentuan Umum
Majalah Parlementaria Edisi 258

Link Flipbook : https://online.anyflip.com/fhwbw/fndh/mobile/index.html

Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI
Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
miras|Newport|Promosi Miras|Sidang Tahunan|Sidang Bersama|Marwah Lembaga|energi|WNI|petani|impor|RUU Ketenagakerjaan|PPPK|Bank Indonesia
Jakarta:
Cerah
29°C
Terasa: 32°C
Lembab: 66%
Angin: 13 km/h