E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h
/
/
Berita/Politik dan Keamanan

Indonesia Harus Ambil Peluang Strategis di Tengah Perang Dagang AS-China

Diterbitkan
Kamis, 17 Apr 2025 15.19 WIB
Bagikan:
Indonesia Harus Ambil Peluang Strategis di Tengah Perang Dagang AS-China
PARLEMENTARIA, Serang – Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat tajam sejak awal tahun 2025. Kedua negara saling menaikkan tarif impor secara signifikan, dengan AS menetapkan tarif sebesar 145 persen terhadap berbagai produk dari China, sebaliknya China membalas dengan tarif hingga 125 persen terhadap barang dari AS.

Dalam kondisi global yang kian kompetitif itu, Anggota Komisi I DPR RI Abraham Sridjaja, mendorong pemerintah Indonesia untuk bersikap proaktif dan cerdas dalam memanfaatkan peluang yang muncul dari konflik dua raksasa ekonomi dunia tersebut.

Menurut Abraham, perang dagang ini bukan hanya menjadi tantangan bagi ekonomi global, tetapi juga menyimpan potensi besar bagi Indonesia untuk mengambil peran strategis dalam rantai pasok internasional.

“Jadi di tengah perang dagang ini, Indonesia harus bisa memanfaatkan opportunity. Ada kesempatan besar di sini di mana Amerika menerapkan tarif 145 persen untuk China dan China menerapkan 125 persen untuk AS. Artinya, AS memaksa China untuk membuka pabrik di luar China. Dengan tarif yang diberlakukan kepada Indonesia yang lebih rendah, Indonesia harus bisa memanfaatkan ini,” ujar Abraham kepada Parlementaria dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi I DPR di Serang, Banten, Selasa (15/4/2025).

Abraham menjelaskan bahwa eskalasi tarif ini akan memicu relokasi industri besar-besaran dari China ke negara-negara yang dianggap lebih netral dan kompetitif secara biaya, termasuk kawasan Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa Indonesia harus bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia dalam menarik investasi asing, khususnya dari perusahaan-perusahaan manufaktur China yang ingin menghindari beban tarif tinggi.

“Caranya dengan bagaimana? Birokrasi kita harus dipermudah, SDM kita harus diperkuat, sehingga China dapat memilih Indonesia daripada Vietnam atau negara-negara lain. Tentunya dengan investasi yang masuk dari perusahaan-perusahaan China ke Indonesia, ini akan membantu ekonomi kita,” tutur Politisi Fraksi Partai Golkar ini.

Ia menekankan pentingnya reformasi struktural, termasuk pemangkasan regulasi yang menghambat, percepatan perizinan investasi, serta peningkatan kualitas tenaga kerja lokal agar Indonesia dapat menjadi pilihan utama investor asing.

Namun di balik peluang tersebut, Abraham juga mengingatkan pentingnya stabilitas dan kehati-hatian. Ia menyoroti bahwa Indonesia harus menjaga keseimbangan antara menarik investasi dan melindungi kepentingan nasional. Dalam hal ini, peran diplomasi ekonomi menjadi sangat vital, terutama dalam menghadapi Amerika Serikat sebagai salah satu mitra dagang utama Indonesia.

“Kita berharap tim yang dikirim oleh Bapak Presiden Prabowo dapat menghasilkan hasil yang baik untuk ekonomi Indonesia,” ucapnya, mengacu pada rencana kunjungan tim negosiasi Indonesia ke Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Abraham juga menegaskan bahwa Indonesia harus tetap terbuka dan fleksibel dalam bernegosiasi, mengingat posisi tawar Indonesia yang cukup kuat saat ini. Berdasarkan data terakhir, neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat menunjukkan surplus sebesar 18 miliar dolar AS, yang menandakan ketergantungan pasar AS terhadap berbagai produk ekspor Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, hingga produk pertanian.

“Yang perlu ditegaskan adalah Indonesia ini terbuka dengan negosiasi apapun. Jadi kita harus lebih fleksibel, kita nggak boleh terlalu kaku karena neraca perdagangan Indonesia ke Amerika itu kita surplus 18 billion US dollar. Artinya, apabila kita bisa nego—misalnya kita menurunkan tarif impor AS ke China—itu akan menjadi salah satu bahan untuk negosiasi yang baik,” jelasnya.

Abraham juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah transformasi global yang sedang berlangsung. Ia menyebut bahwa masuknya investasi besar tentu harus disertai dengan pengawasan dan regulasi yang kuat, agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi UMKM, ekosistem lokal, dan kedaulatan ekonomi nasional.

“Kita memang harus waspada. Stabilitas ekonomi tidak hanya soal makroekonomi, tapi juga bagaimana kita menjaga keseimbangan antara industri besar dan pelaku usaha kecil, antara investasi asing dan pertumbuhan sektor dalam negeri,” tegasnya.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor antara kementerian luar negeri, kementerian perdagangan, dan BKPM dalam memetakan target industri prioritas serta memfasilitasi investasi yang berkualitas, bukan sekadar kuantitas. •blf/rdn

Berita terkait

Pemerintah Harus Siapkan Strategi Panjang PAD di Tengah Isu Transisi Energi
Industri dan Pembangunan
Pemerintah Harus Siapkan Strategi Panjang PAD di Tengah Isu Transisi Energi
Aria Bima: IKN Harus Jadi Kota di Tengah Hutan, Bukan Hutan di Tengah Kota
Politik dan Keamanan
Aria Bima: IKN Harus Jadi Kota di Tengah Hutan, Bukan Hutan di Tengah Kota
BKSAP: Kantor Dagang Arizona di Indonesia Jadi Peluang Emas Perluasan Investasi
Politik dan Keamanan
BKSAP: Kantor Dagang Arizona di Indonesia Jadi Peluang Emas Perluasan Investasi
Tags:#Berita Utama#Komisi I
Sebelumnya

Apresiasi Kinerja PT Inalum, Komisi XII Dorong Peningkatan Proses Hilirisasi

Selanjutnya

Legislator Apresiasi Korem 064 Jaga Stabilitas Keamanan Pasca Idulfitri dan Pelantikan Kepala Daerah

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(935)
  • Industri dan Pembangunan(3345)
  • Isu Lainnya(1023)
  • Kesejahteraan Rakyat(3349)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4081)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK
Parlemen Remaja

Parlemen Remaja

Syarat dan Ketentuan Umum

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h