
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih.|Foto: Sari/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menegaskan bahwa penguatan tradisi membaca di kalangan santri menjadi salah satu kunci untuk mengatasi persoalan literasi di Indonesia. Menurutnya, budaya membaca yang telah mengakar dalam kehidupan pesantren perlu terus diperkuat agar mampu melahirkan generasi berpengetahuan luas yang berkontribusi bagi kemajuan peradaban bangsa.
Hal tersebut disampaikan Fikri dalam keterangannya dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2026). Ia menilai, peringatan tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat literasi di tengah tantangan peningkatan kemampuan membaca masyarakat Indonesia.
Fikri menyoroti sejumlah hasil survei internasional yang pernah menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara dan urutan ke-70 dari 74 negara. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan budaya membaca harus menjadi perhatian bersama.
“Kunci utama untuk mengejar ketertinggalan tersebut sejatinya lekat dengan jati diri seorang santri, yaitu tradisi membaca,” ujar Fikri.
Legislator Fraksi PKS itu menjelaskan, semangat literasi dapat ditelusuri melalui sejumlah pandangan mengenai asal-usul istilah santri. Ia menyebut istilah tersebut dikaitkan dengan kata shastri dalam bahasa Sanskerta yang merujuk pada orang yang mempelajari kitab suci, serta istilah dalam bahasa Tamil yang bermakna guru mengaji. Ia juga mengutip pandangan cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid yang mengaitkan kata santri dengan cantrik, yakni seseorang yang mendampingi tokoh atau guru sembari menimba ilmu.
Menurut Fikri, tradisi membaca tidak sebatas kemampuan memahami teks, tetapi juga mencakup kecakapan memahami situasi dan merespons perubahan zaman. Ia menilai, kepekaan tersebut turut mewarnai peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa, termasuk dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Berkat ketajaman literasi dan kepekaan membaca situasi itulah, melalui guru para santri, yakni K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menginstruksikan kepada para santri sebagai insan yang terus membaca dan belajar untuk bangkit melawan penjajah demi merebut serta mempertahankan kemerdekaan,” tuturnya.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX, yang meliputi Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes, itu mengajak seluruh elemen santri untuk terus menghidupkan semangat Hari Santri Nasional yang ditetapkan pemerintah sejak 2015.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang bermitra dengan Perpustakaan Nasional, Fikri berharap akses terhadap bahan bacaan dan penguatan kepekaan santri terhadap perkembangan zaman terus diperluas. Dengan demikian, tradisi literasi pesantren tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran keagamaan, tetapi juga menjadi bekal untuk menjawab tantangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan.
“Mari jadikan tradisi membaca mulai dari kitab suci, buku ilmu pengetahuan, prosa, puisi, fiksi, hingga kepekaan membaca situasi zaman sebagai kekuatan utama santri untuk menjawab darurat literasi dan memajukan peradaban bangsa. Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026,” pungkas Fikri. (bit/ssb)