
Kepala Biro Humas dan Protokol Setjen DPR RI Rudi Rochmansyah.|Foto: Jaka/jk
PARLEMENTARIA, Jakarta — Semenjak dimulainya proyek Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) 61 tahun yang lalu, Gedung DPR MPR pun turut memulai perjalanannya. Pada tahun 1968, Presiden Speharto mengalihfungsikan proyek CONEFO menjadi Komplek Parlemen hingga saat ini. Namun, tak sedikit masyarakat mengetahui sejarah bangsa yang ikut tersusun di Senayan. Sedikit kisah sejarah ini yang mendasari Bagian Humas dan Pengelolaan Museum untuk menyelenggarakan acara bertajuk “Walking Tour” yang dilaksanakan Rabu (15/6/2026).
Diikuti 50 peserta, acara Walking Tour ini merupakan upaya agar publik dapat mengetahui nilai sejarah dan kemanfaatan Kompleks DPR MPR RI untuk bangsa dan negara. Dalam keterangan yang dihimpun Parlementaria, Kepala Biro Humas dan Protokol Setjen DPR RI Rudi Rochmansyah menuturkan, acara ini diikuti oleh anggota komunitas pecinta museum di seluruh penjuru negeri.
“Ini artinya bahwa ada perhatian, ada kepedulian dari komunitas museum untuk mengunjungi museum DPR dan Komplek Parlemen. Dalam hal ini, Ingin lebih mengenal sejarah keparlemenan, perjalanan demokrasi, kemudian gedung-gedung cagar budaya dan tentu juga ada koleksi bernilai sejarah yang ada di museum DPR RI,” jelas Rudi.
Tak hanya sekedar mengunjungi Kompleks Parlemen, para peserta juga diajak untuk mengenal detail demi detail sejarah bangsa yang terukir, dimulai sejak jaman penjajahan Belanda, hingga DPR di masa kini. Peserta juga diberi kesempatan untuk mengenal Alat Kelengkapan Dewan (AKD) dan unsur pendukung lainnya.
Salah satu peserta asal Kalideres, Jakarta, Putri, berbagi pengalaman menarik selama acara Walking Tour ini. Dalam wawancara dengan Parlementaria, ia mengaku antusias mengikuti acara ini karena ingin melihat langsung Gedung DPR RI seiring dengan informasi kurang baik yang ia dapatkan.
“Jadi kita pengen tahu nih sebenarnya di dalamnya itu ada apa. Kebetulan kan yang kita lihat biasanya unjuk rasa dan segala macam. Jadi kita pengen tahu nih sebenarnya situasinya kayak apa,” ujar Putri.
Putri juga menyampaikan keinginannya agar suatu hari nanti dapat mengajak anak-anak sebagai generasi muda agar mengenal Kompleks Parlemen tak hanya dari paparan media saja.
“Nanti bisa bawa anak-anak kita untuk ke sini. Biar mereka juga paham. Nggak Cuma mendengar dari media kan hanya unjuk rasa di depan DPR. Karena stigma anak sekarang tuh gedung rusuh ya. Bukannya rumah kita,” tukasnya. (rwy/aha)