
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini memberikan keterangan kepada Parlementaria terkait potensi investasi dan hilirisasi di Tapanuli Utara, Sumatera Utara.|Foto : Estu/Alma
PARLEMENTARIA, Tapanuli Utara — Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menilai Kabupaten Tapanuli Utara memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor pariwisata, UMKM, dan industri berbasis komoditas lokal. Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya diikuti dengan masuknya investasi yang mampu memberikan nilai tambah dan dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
“Saya menyerap aspirasi dari Bupati Tapanuli Utara. Saya berdiskusi tentang berapa banyak investasi yang masuk di sektor UMKM, industri, dan juga pariwisata. Rupanya tidak banyak karena kemungkinan besar mayoritas investasi yang ada di Tapanuli Utara ini adalah yang dihasilkan dan disumbangkan oleh warga lokal,” ujar Novita kepada Parlementaria dalam agenda kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang yang besar untuk menarik investasi dari luar daerah. Investasi itu diharapkan tidak hanya masuk ke sektor pariwisata, tetapi juga dapat mendorong tumbuhnya usaha baru serta memperkuat industri pengolahan berbasis potensi lokal.
Novita mencontohkan sektor pertanian Tapanuli Utara yang memiliki sejumlah komoditas potensial, seperti kopi, durian, dan jagung. Komoditas tersebut, menurutnya, perlu didorong agar tidak berhenti pada penjualan bahan mentah atau transaksi di pasar lokal, melainkan dikembangkan hingga menghasilkan produk bernilai tambah.
“Pertanyaannya adalah bagaimana jagung, durian, dan kopi ini bisa sampai ke hilir dengan sistem, tidak cuma dibeli putus di pasar-pasar yang ada di Tapanuli Utara saja. Kami berharap ini menjadi ekosistem industri yang sifatnya hilirisasi sehingga dampak ekonominya lebih besar,” jelas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Ia menilai pengembangan ekosistem hilirisasi dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan kekuatan UMKM lokal dengan industri yang lebih besar. Dengan demikian, potensi pertanian dan produk lokal Tapanuli Utara tidak hanya menjadi komoditas primer, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Meski demikian, Novita mengungkapkan masih terdapat sejumlah kendala yang perlu diselesaikan untuk menarik investasi dan membangun industri di daerah tersebut. Salah satunya berkaitan dengan persoalan lahan, termasuk keberadaan lahan yang dimiliki atau dikelola masyarakat adat.
“Pendorongan untuk memasukkan investasi-investasi yang sifatnya membangun industri, hilirisasi industri, mengawinkan antara UMKM yang ada di hulu hingga yang ada di hilir, ini masih sangat sulit karena salah satu permasalahan lahan,” ungkap legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur VII itu.
Karena itu, Novita mendorong Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara lebih aktif membangun koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian dan lembaga terkait di tingkat pusat. Persoalan lintas sektor, khususnya yang menyangkut lahan dan iklim investasi, dinilai membutuhkan kolaborasi agar dapat diselesaikan tanpa mengabaikan hak dan kepentingan masyarakat setempat.
“Saya mendorong Pemerintah Tapanuli Utara lebih agresif lagi melakukan koordinasi dengan beberapa stakeholder yang ada di pusat,” pungkas Novita.
Melalui penguatan koordinasi tersebut, ia berharap potensi besar Tapanuli Utara, baik pada sektor pariwisata, UMKM maupun pertanian, dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, investasi yang masuk tidak sekadar menambah aktivitas usaha, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Tapanuli Utara. (est/aha)