
Ketua Komisi X DPR RI Agung Widyantoro, saat memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR RI dengan jajaran Eselon I Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto: Septamares/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Perkembangan teknologi digital dinilai membawa kemudahan dalam mengakses bahan bacaan dan informasi. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan membaca secara utuh, menyerap informasi, dan menganalisis persoalan agar perkembangan teknologi tidak justru menurunkan daya kritis generasi muda.
Ketua Komisi X DPR RI Agung Widyantoro mengakui pergeseran dari literasi konvensional menuju digital merupakan perkembangan yang tidak dapat dihindari. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan medium membaca harus tetap menjaga proses intelektual yang muncul dari aktivitas membaca.
Menurutnya, generasi saat ini semakin terbiasa menggunakan teknologi digital, termasuk kecerdasan artifisial (AI), untuk memperoleh jawaban secara cepat. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian Perpusnas agar transformasi digital tidak sekadar mengejar kemudahan akses informasi.
"Kita berjuang tidak hanya mengikuti tren saja, mengadakan, menyediakan pustaka-pustaka bahan bacaan secara digital, tetapi juga sekaligus kita berjuang jangan sampai ketajaman berpikir anak-anak kita menjadi tumpul karena perkembangan digital," ujarnya saat memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR RI dengan jajaran Eselon I Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Rapat tersebut membahas dan mendalami RKA-K/L Tahun Anggaran 2027 serta program yang akan didanai melalui DAK.
Politisi Fraksi Partai Golkar itu menjelaskan bahwa pola konsumsi informasi digital memungkinkan seseorang memperoleh jawaban secara instan tanpa melalui proses membaca secara mendalam. Padahal, menurutnya, proses membaca, menyerap informasi, hingga menganalisis persoalan merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan berpikir.
Agung mengibaratkan perubahan tersebut dengan kebiasaan generasi sebelumnya yang harus membaca buku secara utuh untuk memahami suatu persoalan. Sementara saat ini, masyarakat dapat memperoleh ringkasan atau jawaban dengan memanfaatkan mesin pencari maupun teknologi AI.
"Persoalannya, dari bahan bacaan yang bersifat literasi konvensional ini setelah bergeser ke digital, itu bacaan pokoknya tidak dibaca tetapi langsung tekan tombol ingin mencari apa jawaban dari persoalan yang dihadapi," ujarnya.
Karena itu, ia meminta Perpusnas merumuskan strategi digitalisasi yang tidak hanya memperluas akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga mendorong masyarakat tetap memiliki kemampuan memahami dan mengolah informasi secara kritis.
Agung menilai tantangan tersebut penting diperhatikan seiring semakin luasnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.
"Proses baca, kemudian menyerap, dan kemampuan menganalisa sesuatu, persoalan yang ada yang dihadapi itu, ini banyak anak-anak kita bergantung sekali dengan kemajuan digital. Saya khawatir nanti kemampuan analisisnya ini berkurang," pungkas legislator dapil Jawa Tengah IX itu. (fa)