
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari melakukan kunjungan langsung pelatihan yang ada di BLK Dinas Tenaga Kerja Kota Palangka Raya.|Foto: Hira/Karisma
PARLEMENTARIA, Palangka Raya – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari mendorong Balai Latihan Kerja (BLK) Palangka Raya memperkuat keterkaitan (link and match) antara program pelatihan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Menurutnya, BLK harus mampu mencetak tenaga kerja yang kompeten, siap bekerja, sekaligus memiliki kemampuan berwirausaha.
Hal tersebut disampaikan Putih Sari saat meninjau BLK Dinas Tenaga Kerja Kota Palangka Raya dalam rangka Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (23/7/2026).
"Keberadaan Balai Latihan Kerja harus mampu menjadi pusat pencetak tenaga kerja yang kompeten, siap bekerja, dan juga siap berwirausaha," ujarnya.
Putih Sari mengapresiasi BLK Palangka Raya yang tetap menjalankan program pelatihan di tengah berbagai keterbatasan. Namun, menurutnya, peningkatan kualitas pelatihan tetap diperlukan agar kompetensi lulusan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Ia menegaskan, lulusan BLK harus memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia usaha dan industri, baik di Palangka Raya maupun di Kalimantan Tengah, sehingga keberadaan BLK dapat berkontribusi dalam menekan angka pengangguran.
"Link and match harus terus diperkuat antara pelatihan dan kebutuhan pasar kerja. Lulusan BLK harus benar-benar menguasai kompetensi yang dibutuhkan industri sehingga memiliki peluang besar untuk terserap di dunia kerja dan membantu menekan angka pengangguran," katanya.
Selain itu, Putih Sari menyoroti masih adanya ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan pencari kerja dan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, sebagian pengangguran justru berasal dari kelompok berpendidikan tinggi, termasuk lulusan sarjana.
Karena itu, ia mendorong agar pelatihan kerja tidak hanya berorientasi pada penyiapan tenaga kerja, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan kewirausahaan, seperti manajemen bisnis dan pengembangan usaha, agar mampu menciptakan lapangan kerja secara mandiri.
"Jangan hanya berfokus pada pencarian lowongan kerja. Lulusan, termasuk sarjana, juga perlu dibekali kemampuan manajemen bisnis dan kewirausahaan agar mampu menciptakan lapangan kerja sendiri," jelas Politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Lebih lanjut, Putih Sari menilai pengembangan program pelatihan harus disesuaikan dengan potensi unggulan daerah, termasuk sektor ekonomi kreatif yang memiliki peluang besar untuk menyerap tenaga kerja dan mendorong lahirnya wirausaha baru.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan dunia usaha dan industri dalam penyusunan kurikulum serta pengembangan kompetensi pelatihan. Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memastikan materi yang diajarkan di BLK selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
"Perusahaan dan industri tidak hanya menjadi pengguna lulusan BLK, tetapi juga perlu berkontribusi dalam penyusunan kurikulum dan kompetensi yang dibutuhkan agar pelatihan benar-benar relevan dengan dunia kerja," tegasnya.
Di sisi lain, Putih Sari menambahkan dukungan anggaran dan program dari Kementerian Ketenagakerjaan perlu terus dioptimalkan untuk memperkuat kapasitas BLK di daerah. Ia juga mendorong kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar BLK semakin efektif dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. (hal/ssb)