
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini. |Foto : Dok/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta - Kesenian khas Kabupaten Trenggalek, Turonggo Yakso, siap menorehkan jejak di panggung internasional. Bersama ragam budaya kawasan Mataraman, kesenian tersebut akan mewakili Indonesia dalam ajang The 2026 World Island Exhibition di Yeosu, Korea Selatan, yang berlangsung pada 5 September hingga 4 November 2026.
Partisipasi ini menjadi momentum penting bagi Trenggalek untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya lokal kepada masyarakat dunia melalui forum promosi pariwisata internasional yang diikuti lebih dari 200 negara.
Dalam pameran bertema “Island, Connecting the Ocean and the Future” tersebut, delegasi Indonesia dijadwalkan tampil sebagai tarian pembuka, mempersembahkan kekayaan budaya Nusantara di hadapan peserta dan pengunjung dari berbagai belahan dunia.
Keikutsertaan Trenggalek dalam ajang bergengsi itu mendapat dukungan penuh dari Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini. Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperluas promosi budaya daerah sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan warisan seni dan tradisi.
“Ini adalah kesempatan emas bagi Trenggalek dan kawasan Mataraman untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Turonggo Yakso bukan hanya seni pertunjukan, tetapi identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat yang harus kita perkenalkan secara lebih luas,” ujar Novita dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Kamis (18/6/2026).
The 2026 World Island Exhibition sendiri merupakan pameran kepulauan berskala internasional yang akan mengubah Kota Yeosu, Provinsi Jeolla Selatan, menjadi ruang pamer terbuka selama 61 hari. Ratusan pulau dan kawasan pesisir akan dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan untuk menampilkan potensi budaya, pariwisata, lingkungan, serta ekonomi kreatif dari berbagai negara.
Bagi Novita, kehadiran Trenggalek dalam forum global tersebut tidak hanya menjadi bagian dari diplomasi budaya, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Ia menegaskan bahwa promosi budaya harus mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi tontonan. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan pariwisata, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu kami terus mendorong agar potensi-potensi daerah seperti Trenggalek mendapatkan ruang tampil di level dunia,” tegas politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Selain menampilkan Turonggo Yakso, delegasi Indonesia juga akan memperkenalkan beragam kekayaan budaya khas kawasan Mataraman, termasuk budaya Ponorogo, sebagai representasi keberagaman tradisi Jawa Timur yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan kreativitas masyarakat.
Novita berharap partisipasi Trenggalek dalam ajang internasional ini dapat menjadi pintu masuk bagi pengenalan budaya Indonesia yang lebih luas di tingkat global. Menurutnya, seni dan tradisi lokal merupakan aset strategis dalam membangun citra bangsa di mata dunia.
“Ini bukan hanya tentang Trenggalek, tetapi tentang bagaimana budaya Indonesia berdiri sejajar dengan budaya bangsa-bangsa lain di dunia. Kita ingin dunia mengenal Indonesia melalui karya, tradisi, dan kearifan lokal yang kita miliki,” pungkas legislator Dapil Jawa Timur VII yang meliputi Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, dan Magetan.
Turonggo Yakso sendiri merupakan kesenian tari jaranan khas Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, yang diciptakan sekitar tahun 1979 oleh seniman lokal Pamrih dan Supriyanto. Tarian dengan ciri khas kuda kepang berkepala raksasa (yakso) ini berakar dari tradisi Baritan sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen, dan kini siap menjadi salah satu wajah budaya Indonesia di panggung dunia. (uc/we)