
Anggota DPR RI, Fauzan Khalid saat enghadiri tradisi Begawe Beleq Kawule Midang yang digelar masyarakat dan para pemuda Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (7/6/2026). |Foto : Dok/Alma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota DPR RI Fauzan Khalid menghadiri tradisi Begawe Beleq Kawule Midang yang digelar masyarakat dan para pemuda Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (7/6/2026), sebagai bagian dari penyambutan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Momentum tersebut dimaknai sebagai sarana memperkuat spirit hijrah, muhasabah, serta kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Tradisi penyambutan Tahun Baru Islam itu ditandai dengan pemukulan gendang beleq oleh Fauzan bersama masyarakat setempat. Kegiatan yang dikemas dalam Begawe Beleq Kawule Midang tersebut juga diisi pertunjukan gendang beleq, kesenian tradisional masyarakat Suku Sasak yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Lombok.
Dalam sambutannya, Fauzan menyambut baik inisiatif masyarakat dan generasi muda Desa Midang yang menggelar kegiatan menyambut Tahun Baru Islam. Baginya, momentum 1 Muharram tidak sekadar menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
“Secara spiritual, tanggal ini bermakna sebagai momentum introspeksi diri (muhasabah), hijrah menjadi pribadi yang lebih baik, dan harapan baru dalam meningkatkan kualitas ibadah,” ujar Fauzan dalam keterangan etrtulis yang diterima oleh Parlementaria di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Politisi Fraksi Nasdem itu menjelaskan, Tahun Baru Islam memiliki makna historis yang kuat karena berangkat dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak penting perkembangan Islam. Selain menjadi penanda pergantian tahun Hijriah, Muharram juga termasuk satu dari empat bulan suci yang dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah.
Menurut Fauzan, spirit hijrah perlu dimaknai sebagai upaya berpindah dari kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Momentum Tahun Baru Islam juga perlu dijadikan sarana memperkuat kepedulian sosial dan membangun resolusi hidup yang lebih bermakna.
“Satu (1) Muharram 1448 Hijriah adalah momentum penting bagi kita umat Islam untuk transformasi diri ke arah yang lebih baik, muhasabah atau evaluasi ibadah, dan memperkuat kepedulian sosial, serta menjadikannya sebagai titik tolak memulai resolusi hidup yang lebih bermakna di masa kini,” tutup legislator dapil NTB II itu. (uc/um)