
Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Kadafi.|Foto: Sari/mrs
PARLEMENTARIA, Denpasar — Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Kadafi optimistis Indonesia mampu melahirkan pembalap motor yang bersaing di podium kejuaraan dunia. Optimisme tersebut didukung potensi pasar sepeda motor yang besar, keberadaan sirkuit dengan karakteristik beragam, serta peluang pembinaan atlet melalui kompetisi berjenjang.
Menurut Kadafi, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui pembinaan yang berkesinambungan, penyediaan fasilitas memadai, dan pemetaan bakat pembalap di berbagai daerah. Dengan dukungan tersebut, atlet muda Indonesia diharapkan dapat berkembang dari tingkat pemula hingga mampu bersaing di kompetisi profesional internasional.
“Bicara calon atlet, kita Indonesia sekarang sangat punya potensi. Karena selain kita sebagai market dari penjualan roda dua, kita juga memiliki sirkuit yang beragam di berbagai daerah,” ujar Kadafi saat ditemui di Denpasar, Bali, Sabtu (10/10/2026).
Sebagai mantan atlet balap profesional, Kadafi menilai keberadaan kompetisi berjenjang menjadi salah satu modal penting untuk membangun regenerasi pembalap nasional. Ia mencontohkan cabang olahraga balap motor yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) sebagai salah satu jalur bagi atlet daerah untuk mengasah kemampuan dan memperoleh pengalaman bertanding.
“Cabang balap motor ini masuk salah satu cabang yang diperlombakan di PON. Otomatis ini berkesinambungan untuk mereka dari atlet pemula hingga jadi profesional. Jadi sangat terbuka,” kata politisi Fraksi PBK tersebut.
Balap motor telah menjadi bagian dari penyelenggaraan PON sejak 2004 dan kembali dipertandingkan pada PON XXI Aceh-Sumut 2024. Keberlanjutan kompetisi tersebut menjadi salah satu peluang bagi pembalap daerah untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membuka jalan menuju jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Optimisme Kadafi juga didukung kiprah sejumlah pembalap muda Indonesia di ajang internasional. Dalam rangkaian Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 9–11 Oktober 2026, Indonesia diwakili Veda Ega Pratama di kelas Moto3 dan Mario Suryo Aji di kelas Moto2.
“Sekarang kan di kelas atasnya ada Mario Aji di Moto2. Moto3-nya ada Veda. Di bawahnya (Moto3 Junior) sekarang juga ada Kiandra Ramadhipa. Ini kan terus berjenjang. Sangat berpotensi kita untuk ke depan akan lahir juara dunia dari Indonesia. Optimis saya,” tutur Kadafi.
Pada balapan Minggu (11/10), Veda berhasil finis di posisi keenam kelas Moto3, sedangkan Mario menyelesaikan balapan Moto2 di posisi ke-20. Hasil tersebut menjadi bagian dari pengalaman kompetitif yang dapat dievaluasi untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing pembalap Indonesia di level internasional.
Selain Veda dan Mario, pembalap muda Kiandra Ramadhipa juga menunjukkan potensi melalui kiprahnya di Kejuaraan Dunia FIM Moto3 Junior 2026. Pada musim debutnya, Kiandra berhasil meraih kemenangan dalam balapan di Estoril, Portugal, serta beberapa kali naik podium. Ia menempati peringkat keempat klasemen sementara dengan koleksi 113 poin.
Peluang Indonesia menambah wakil di kompetisi internasional juga terlihat melalui Aldi Satya Mahendra yang berkompetisi di World Supersport. Peluangnya untuk naik ke kelas Moto2 menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati, seiring dengan perjalanan karier dan persiapannya di level kompetisi saat ini.
Bagi Kadafi, kiprah para pembalap tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal untuk mencetak atlet balap motor berprestasi. Namun, potensi itu perlu diikuti pembinaan yang konsisten, dukungan fasilitas, serta kompetisi berjenjang agar regenerasi atlet berjalan berkelanjutan.
Ia berharap ekosistem pembinaan balap motor nasional semakin kuat sehingga pembalap Indonesia tidak hanya mampu bersaing di kejuaraan internasional, tetapi juga berpeluang mengibarkan Merah Putih di podium dunia. (uc/ssb)