
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko bersama Tim melakukan kunjungan Kerja spesitik ke Pura Luhur Poten, Probolinggo, Jawa Timur.|Foto: Wilga/Mahendra
PARLEMENTARIA, Probolinggo – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko menilai penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi solusi paling tepat untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pura Luhur Poten, Tengger, Probolinggo, Jawa Timur. Penggunaan PLTS dinilai dapat menyediakan kebutuhan listrik sekaligus menjaga keaslian dan nilai tradisional kawasan tersebut.
Hal itu disampaikan Singgih usai memimpin Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR RI ke Komunitas Hindu Tengger, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (3/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Komisi VIII menerima aspirasi masyarakat terkait belum tersedianya pasokan listrik di Pura Luhur Poten yang selama ini masih mengandalkan genset untuk menunjang berbagai kegiatan ritual.
“Kalau terkait listrik, tadi saya rasa yang paling baik adalah dengan PLTS. Kalau kita pasang nanti dari pemukiman sampai pura kan hampir dua kilometer. Itu secara estetik juga kurang baik, secara juga nanti akan membuat nilai tradisionalnya hilang,” ujar Singgih.
Menurutnya, pembangunan jaringan listrik konvensional menuju kawasan Pura Luhur Poten perlu mempertimbangkan karakteristik kawasan serta nilai adat dan tradisi yang selama ini dijaga masyarakat Tengger. Karena itu, PLTS dinilai lebih sesuai sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan penerangan di kawasan tersebut. “Kalau saya rasa yang paling baik adalah nanti dengan PLTS,” tegasnya.
Sementara itu, Sesepuh Masyarakat Tengger, Supoyo, mengatakan ketersediaan listrik menjadi salah satu kebutuhan yang perlu segera dipenuhi untuk menunjang aktivitas ritual masyarakat di Pura Luhur Poten. Selama ini, katanya, masyarakat masih bergantung pada genset sebagai sumber listrik.
“Mungkin ada hal-hal yang perlu dicukupi. Tadi masalah listrik, karena selama ini pakai genset. Untuk kegiatan ritual masyarakat Tengger itu masih tergantung pada genset,” kata Supoyo.
Ia menjelaskan, penggunaan genset memiliki keterbatasan, baik dari sisi masa pemakaian maupun kapasitasnya. Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap adanya dukungan penyediaan listrik yang lebih permanen untuk menunjang kegiatan ritual di kawasan Pura Luhur Poten. “Yang mana juga genset ini juga punya masa. Artinya itu pemakaiannya itu juga terbatas sehingga ini kita harapkan ada PLN saja,” ujarnya.
Berdasarkan kebutuhan masyarakat, kata Supoyo, daya listrik sekitar 5.000 watt dinilai sudah memadai untuk menunjang pelaksanaan kegiatan ritual. Ia pun menyambut baik perhatian Komisi VIII DPR RI terhadap kebutuhan masyarakat Tengger, khususnya terkait pemenuhan sarana pendukung kegiatan keagamaan dan ritual di Pura Luhur Poten. (we/aha)