
Anggota Komisi VIII DPR RI, Mohammad Iqbal Romzi dalam rapat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI terkait Pengawasan Pendidikan Tinggi Keagamaan.|Foto: Ucha/Alma
PARLEMENTARIA, Malang — "Kalau terbiasa makan duren, tentu tidak bersama durinya. Kalau bangsa ini mau keren, harus mulia jadi dirinya."
Seolah mengamini isi pantun tersebut, para peserta rapat sontak bertepuk tangan. Anggota Komisi VIII DPR RI, Mohammad Iqbal Romzi lalu menjelaskan bahwa jati diri yang mulia dibangun melalui pendidikan yang baik dan perlu terus dikembangkan melalui berbagai dukungan penguatan. Hal tersebut disampaikannya dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI ke Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia (STP-IPI) Malang, Jawa Timur, Kamis (3/9/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komisi VIII DPR RI terhadap penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan, khususnya pendidikan tinggi keagamaan Katolik. Dalam kesempatan ini, Komisi VIII memetakan berbagai persoalan yang dihadapi perguruan tinggi sekaligus berdiskusi untuk mencari langkah terbaik dalam pengembangannya, termasuk peningkatan mutu pendidikan.
Dalam pengembangan perguruan tinggi, Iqbal memiliki gambaran tersendiri mengenai kualitas yang perlu dibangun. Ia menyebutnya sebagai “wajah IRAMA”, yang mencakup pengakuan terhadap ilmu, kualitas riset, keteladanan akademisi, hingga kepercayaan terhadap alumni.
“Saya punya istilah, wajah IRAMA; Ilmunya diakui, risetnya dirujuki, akademisinya diteladani, musuhnya dihormati, alumninya dipercayai,” katanya, kembali menuai tepuk tangan.
Gambaran tersebut dinilai menjadi karakter perguruan tinggi kelas dunia. Iqbal pun memastikan Komisi VIII DPR RI memberikan dukungan terhadap pengembangan STP-IPI sebagai lembaga pendidikan keagamaan Katolik.
“Ini wajah perguruan tinggi kelas dunia di seluruh dunia. Harapan kita, kita datang ke sini atas dasar cinta dan persaudaraan untuk memberikan dukungan penuh. Kami dari Komisi VIII untuk kemajuan lembaga pendidikan ini,” ujar politisi Fraksi PKS itu dalam rapat.
Penguatan kualitas perguruan tinggi juga membutuhkan keseriusan dalam menjalankan peran akademisi. Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menekankan bahwa profesi dosen memiliki tuntutan akademik yang harus dijalankan secara serius, termasuk dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
STP-IPI telah memiliki wadah publikasi untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan keilmuan. Ketua STP-IPI Yohanes Subasno menyampaikan kampus saat ini mengelola tiga jurnal yang menjadi bagian dari aktivitas akademik dan publikasi ilmiah.
Pengembangan publikasi tersebut sejalan dengan arah STP-IPI untuk menjadi perguruan tinggi pastoral yang unggul secara internasional pada 2032. Penguatan publikasi internasional, hubungan dengan institusi internasional, dan pengakuan terhadap kualitas akademik menjadi bagian dari visi tersebut.
Penguatan pendidikan, riset, dan kapasitas akademisi menjadi bagian penting dalam membangun reputasi perguruan tinggi keagamaan. Bagi Iqbal, capaian itu pada akhirnya tercermin ketika ilmu diakui, riset yang dilakukan menjadi bagan rujukan, akademisi yang menjadi teladan, musuh (pesaing) menghormati dan alumni yang terpercaya. (uc/aha)