
Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil, dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR RI bersama Kapolri dan Kepala PPATK di Gedung Nusantara II, DPR RI, Senayan, Jakarta.|Foto: Devi/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil meminta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Adaptasi tersebut dinilai penting untuk memastikan pengawasan terhadap transaksi keuangan mampu mengimbangi modus kejahatan yang turut berkembang.
Nasir menilai kemajuan teknologi telah menghadirkan tantangan baru bagi PPATK dalam menjalankan fungsi pengawasan. Karena itu, PPATK perlu meningkatkan kualitas teknologi sekaligus mempercepat penerapan sistem digital untuk menghadapi perubahan pola kejahatan keuangan.
“Karena tanpa kita sadari kecepatan teknologi itu sekarang sudah menyalip regulasi. Jadi ini barangkali tantangan bagi PPATK,” kata Nasir dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR RI bersama Kapolri dan Kepala PPATK di Gedung Nusantara II, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, penguatan teknologi perlu diarahkan pada pengembangan ekosistem digital berbasis akal imitasi (AI). Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan PPATK dalam mendeteksi dan menganalisis transaksi keuangan yang berpotensi berkaitan dengan tindak pidana.
Nasir juga menyoroti karakter jaringan kejahatan keuangan yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi. Kondisi tersebut membuat pengawasan keuangan perlu dilakukan secara lebih cerdas, terutama terhadap sektor-sektor yang memiliki tingkat risiko tinggi.
“Kami juga mendorong agar PPATK mempercepat implementasi ekosistem digital berbasis kecerdasan buatan. Kami juga berharap dengan anggaran yang disiapkan di tahun 2027 yang akan datang, PPATK itu memperkuat pengawasan intelligent keuangan,” ujar legislator dati Fraksi PKS tersebut.
Lebih lanjut, Nasir menekankan pentingnya PPATK memperkuat pengawasan terhadap sektor-sektor berisiko tinggi. Menurutnya, kemampuan pengawasan harus terus ditingkatkan karena jaringan kejahatan keuangan dapat memanfaatkan teknologi untuk menyesuaikan pola dan modusnya.
“Karena kami membaca bahwa jaringan kejahatan keuangan itu sangat adaptif. Sangat adaptif dengan teknologi yang hari ini. Jadi oleh karena itu pengawasan intelligent keuangan terutama pada sektor-sektor beresiko tinggi itu sangat diharapkan,” pungkas Nasir. (ujm/rdn)