
Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarif Muhammad saat Kunjungan Spesifik Komisi X DPR RI ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Kamis (20/8/2026). |Foto: Arifman/Karisma
PARLEMENTARIA, Semarang – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai menghadirkan tantangan baru bagi budaya literasi masyarakat, terutama generasi muda. Karena itu, perpustakaan perlu memperkuat perannya agar masyarakat tidak hanya memperoleh informasi secara instan, tetapi juga memiliki kemampuan membaca, memahami, menelusuri sumber informasi, dan berpikir kritis.
Pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarif Muhammad dan Ruby Chairani Syiffadia dalam Kunjungan Spesifik Komisi X DPR RI ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Kamis (20/8/2026). Keduanya memandang perubahan pola masyarakat memperoleh informasi melalui media sosial dan AI perlu diikuti dengan penguatan fungsi perpustakaan sebagai ruang pembelajaran.
Habib menyampaikan, tantangan literasi saat ini tidak lagi sebatas persoalan klasik seperti rendahnya budaya membaca, distribusi buku yang belum merata, maupun keterbatasan anggaran. Menurutnya, perkembangan AI telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin terbiasa mendapatkan jawaban secara instan.
“Tantangan literasi kita saat ini bukan hanya sebatas tantangan klasik saja. Di era digital hari ini, literasi menghadapi disrupsi fundamental yang sangat bergantung kepada AI. Salah satu yang kita lihat setelah melakukan diskusi dengan beberapa mahasiswa, ialah mulai matinya budaya berpikir yang kritis,” ujar Habib.
Menurutnya, masyarakat kini cenderung tidak lagi menelusuri sumber utama ketika memperoleh informasi, melainkan langsung mengandalkan jawaban dari generate sistem AI. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian dalam pengembangan program literasi agar masyarakat tidak berhenti pada kemampuan mendapatkan informasi cepat, tetapi juga mampu memahami latar belakang serta menganalisis informasi yang diperoleh.
Habib menilai perpustakaan bersama pemerintah daerah perlu merekonstruksi program literasi agar kemampuan berpikir kritis tetap terlatih di tengah kemudahan teknologi. Ia juga menyoroti munculnya tantangan baru terhadap ekosistem perbukuan, seiring adanya fenomena perusahaan AI yang memanfaatkan buku fisik sebagai bahan pelatihan mesin AI.
“Ketika berdiskusi, mereka terbiasa menjawab pokoknya saja, ketika ditanya nilai filosofis mereka blank. Kehadiran AI, ChatGPT atau Gemini telah mengubah siklus konsumsi informasi di mana masyarakat cenderung mengambil jalan pintas untuk mendapatkan jawabannya yang sangat instan. Selain itu, juga adanya fenomena ribuan buku yang dijadikan bahan eksploitasi sekali pakai oleh mesin AI sehingga akan berdampak terhadap ekosistem penerbitan nasional” ungkapnya.
Sementara itu, Ruby menilai perubahan tersebut sangat dekat dengan kehidupan generasi muda. Menurutnya, generasi Z saat ini telah terbiasa memperoleh informasi melalui Instagram, media sosial lainnya, maupun AI ketika mencari informasi jawaban atas berbagai persoalan.
“Yang jadi pertanyaan sebenarnya, bagaimana posisi keberadaan perpustakaan bagi anak-anak muda dalam mencari dan juga meng-confirm informasi-informasi yang mereka dapatkan secara luas yang belum tentu true or not-nya informasi tersebut,”ujar politisi Fraksi Gerindra tersebut.
Ia menjelaskan derasnya informasi di ruang digital membuat kemampuan memeriksa kembali kebenaran informasi menjadi hal yang sangat krusial. Karena itu, Ruby mempertanyakan bagaimana upaya pemerintah daerah dan Perpustakaan Nasional dapat menyiapkan peran perpustakaan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang agar tetap relevan dan mampu menarik generasi muda, khususnya kelompok usia 14 hingga 30 tahun, untuk aktif memanfaatkan perpustakaan.
Menurut Ruby, perpustakaan perlu terus menyesuaikan layanan dengan perubahan perilaku generasi muda tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang belajar dan pengembangan kemampuan literasi. Dengan demikian, kemudahan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperoleh informasi, sementara kemampuan membaca secara mendalam dan berpikir kritis tetap terjaga. (arm/aha)