
Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo, saat RDPU dengan DPRD Kabupaten Temanggung dan perwakilan Komite Pertembakauan di Ruang Rapat Komisi IV, Gedung DPR.|Foto: Oji/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menilai permasalahan tembakau di Indonesia sangat kompleks, mencakup dilema kesehatan publik, kesejahteraan petani, dan ekonomi industri. Menurutnya tingginya angka perokok memicu beban kesehatan yang masif, sementara di sisi lain, petani sering kali terjebak dalam risiko gagal panen, ketergantungan modal, dan tata niaga yang merugikan.
“Permasalahan tembakau ini cukup kompleks mulai dari pelaku industri tembakau yang tidak kompak, hingga adanya tumpang tindih kebijakan yang dinilai merugikan petani. Dibutuhkan penyelesaian dari hulu hingga hilir dan pemerintah harus hadir mendengarkan dan menindaklanjuti keluhan para petani”, ungkapnya di Ruang Rapat Komisi IV, Gedung DPR, Selasa (21/6/2026).
Ia mengatakan Indonesia memiliki prevalensi perokok yang tinggi, memicu kerugian ekonomi dan beban penyakit. Di sisi lain, menaikkan cukai secara drastis sering terkendala oleh maraknya peredaran rokok ilegal di pasaran.
Nasib petani tembakau lokal sangat rentan akibat anomali cuaca, dominasi tengkulak, dan turunnya kualitas daun tembakau akibat hama seperti Tobacco Mosaic Virus. Produksi tembakau lokal sering tidak mencukupi permintaan industri rokok nasional. Hal ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan tembakau impor untuk memenuhi standar kualitas tertentu.
“Contoh seperti China dimana negara yang menentukan harga beli tembakau oleh petani dan mengajak kontrak tanam sehingga petani tidak merugi. Kemudian, produksi diatur oleh negara dimana kuota tanam diatur dan tidak boleh diimpor secara sembarangan jika produksi dalam negeri menurun”, tuturnya.
Politisi Golkar ini meminta pemerintah meniru negara lain seperti China dan Turki untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau. “Jangan hanya beras saja yang diperhatikan, sebelumnya pak Presiden sudah menetapkan harga beras sebesar 6.500 dan langsung swasembada. Sehingga, apabila hal yang sama diterapkan kepada petani tembakau juga akan baik”, punkasnya. (tn/we)