
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih, dalam Kunjungan Kerja Sepesifik Komisi X DPR RI di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.|Foto: Est/Karisma
PARLEMENTARIA, Medan – Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyoroti keluhan sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) terkait pelaksanaan jalur penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) yang dinilai berlangsung terlalu lama. Hal tersebut disampaikannya dalam Kunjungan Kerja Sepesifik Komisi X DPR RI di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (26/6/2026).
"Keluhan swasta tadi adalah masalah jalur penerimaan PTN. Ada tiga jalur, yaitu jalur tes, jalur prestasi, dan jalur mandiri. Bahkan jalur mandiri dibuka bukan hanya Juni, tetapi sampai Juli, Agustus, bahkan konon ada yang sampai September. Ini dikeluhkan banyak pihak," ujar Fikri.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia saat ini masih berada di kisaran 33 persen. Ia mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tidak hanya berfokus pada persaingan antara PTN dan PTS, melainkan mencari solusi agar semakin banyak lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Fikri menilai calon mahasiswa yang tidak diterima atau tidak melanjutkan ke PTN belum tentu berpindah ke PTS. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya memilih tidak melanjutkan kuliah sama sekali. Karena itu, menurutnya, diperlukan langkah bersama untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan tinggi.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah mengintegrasikan sistem data penerimaan mahasiswa baru di seluruh penyelenggara pendidikan tinggi, mulai dari PTN, PTS, Perguruan Tinggi Kementerian dan Lembaga (PTKL), hingga Universitas Terbuka (UT). Dengan sistem yang terintegrasi, proses seleksi diharapkan menjadi lebih efisien dan memberikan kepastian bagi calon mahasiswa.
Selain itu, Fikri mengusulkan adanya skema pilihan lintas perguruan tinggi dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Menurutnya, calon mahasiswa dapat diberikan kesempatan memilih PTN, PTKL, PTS, hingga UT dalam satu sistem seleksi sehingga peluang melanjutkan pendidikan menjadi lebih besar.
"Saya kira bisa saja pilihan satu, dua, tiga, empat, misalnya PTN yang diidolakan, kemudian PTKL, PTS, dan UT. Ini bisa menjadi salah satu solusi agar semakin banyak anak-anak kita melanjutkan ke perguruan tinggi," pungkasnya. (est/ssb)