
Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Lucy Kurniasari.|Foto : Sari/Alma
PARLEMENTARIA, Mataram - Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Lucy Kurniasari, mendorong agar rumah sakit yang mengusung konsep ramah anak turut memperkuat layanan kesehatan melalui penambahan dokter spesialis tumbuh kembang anak. Menurutnya, keberadaan layanan tersebut sangat dibutuhkan mengingat masih terbatasnya jumlah tenaga medis yang menangani gangguan tumbuh kembang anak.
Hal itu disampaikan Lucy berdasarkan pengalaman keluarganya saat mencari penanganan bagi cucunya yang mengalami cerebral palsy.
“Saya tertarik dengan konsep rumah sakit ramah anak, tapi saya belum melihat disini ada dokter spesialis tumbuh kembang anak. Cucu saya ada delapan, lalu cucu saya yang keempat mengalami cerebral palsy akibat infeksi pada trimester ketiga kehamilan. Kondisinya baru disadari saat usia dua tahun,” ujar Lucy dalam kunjungan kerja ke RS Siloam Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (26/6/2026).
Lucy mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami kesulitan mencari dokter spesialis tumbuh kembang anak. Menurutnya, saat itu layanan tersebut hanya tersedia di Rumah Sakit di daerah Kelapa Gading, dengan antrean pasien yang sangat panjang hingga mencapai satu tahun.
“Cari dokter tumbuh kembang setengah mati karena ternyata sangat jarang. Waktu itu adanya di Rumah Sakit daerah Kelapa Gading dan antreannya tahunan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, layanan tumbuh kembang tidak hanya mencakup konsultasi dokter, tetapi juga terapi khusus hingga pembuatan alat bantu seperti sepatu khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Karena itu, Lucy menilai layanan tersebut perlu diperluas agar masyarakat lebih mudah mengakses penanganan sejak dini.
Lebih lanjut, Lucy mengatakan jumlah pasien yang membutuhkan layanan tumbuh kembang cukup besar. Berdasarkan pengalamannya, terdapat sekitar 100 pasien yang menjalani penanganan, bahkan sebagian berasal dari luar daerah, termasuk Lombok.
“Saya melihat kasus tumbuh kembang itu banyak sekali. Waktu itu ada kira-kira 100 pasien, bahkan banyak juga yang dari Lombok. Saya melihat potensinya besar. Kalau tidak ada dokter spesialis tumbuh kembang disini, sayang sekali. Mungkin ke depan bisa ditambah layanan tumbuh kembang,” katanya. (sai/ssb)