
Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto berfoto bersama usai menerima Kunjungan Kehormatan (Courtesy Call) Duta Besar Maroko di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta.|Foto : Arifman/ andri
PARLEMENTARIA, Jakarta - Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto menegaskan pentingnya penguatan diplomasi parlemen yang mampu memberikan dampak konkret bagi masyarakat. Salah satu langkah nyata yang didorong adalah perluasan kerja sama bilateral di sektor pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Negara Maroko.
“Intinya adalah bagaimana parlemen, diplomasi parlemen bisa meningkatkan hubungan kedua negara. Antara lain mereka bisa menyiapkan 50 beasiswa untuk orang-orang yang studi bahasa Arab dan kesejarahan,” tegas Utut Adianto kepada Parlementaria usai menerima Kunjungan Kehormatan (Courtesy Call) Duta Besar Maroko di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (23/06/2026).
Ia menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Maroko bukan merupakan hal baru, melainkan sebuah jalinan kedekatan yang memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan kuat. Hubungan diplomatik yang harmonis ini bahkan sudah diinisiasi oleh para pemimpin besar kedua negara sejak era tahun 1960 an.
“Dan juga kita tahu bahwa Maroko memiliki sejarah panjang dengan Indonesia, kan Presiden Sukarno di tahun 1960 pernah ke sana dan juga Raja Mohammed V pernah ke sini tahun 60,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
Dalam pertemuan tersebut, DPR RI bersama perwakilan instansi diplomasi Maroko yang dihadiri langsung oleh Duta Besar H.E. Mr. Redouane Houssaini dan Deputy Chief of Mission Mr. Mohamed Sidati, sepakat untuk menghidupkan kembali fungsi Kelompok Kerja Sama Bilateral (GKSB) antar-parlemen.
Melalui wadah tersebut, kedua negara berkomitmen untuk saling mendukung di berbagai bidang strategis, mulai dari bidang ekonomi hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lewat program beasiswa yang ditawarkan. (nal/rdn)