
Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief dalam pertemuan Komisi VII DPR RI dengan Yayasan Sinema Yogyakarta atau Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta, di Yogyakarta.|Yohan/Arifman
PARLEMENTARIA, Yogyakarta – Anggota Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (KDFN) dan anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief menyoroti pentingnya dukungan penuh terhadap festival film bertaraf internasional seperti Netpac Asian Film Festival (JAFF).
Ia menilai ajang yang melibatkan puluhan negara tersebut merupakan peluang strategis untuk mengangkat potensi budaya lokal Nusantara ke tingkat mancanegara secara profesional. Hal tersebut ditegaskan Hendry dalam pertemuan Komisi VII DPR RI dengan Yayasan Sinema Yogyakarta atau Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta, di Yogyakarta, (05/06/2026).
"Harapan kita bagaimana budaya Melayu juga bisa merangkul budaya di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Potensi budaya lokal perlu kita tingkatkan secara maksimal agar kecintaan kepada produksi perfilman Indonesia semakin membesar dengan berbagai macam latar budaya yang ada," ujar Hendry.
Lebih lanjut, Anggota Panja KDFN Komisi VII tersebut menyoroti masalah pemerataan infrastruktur distribusi perfilman yang saat ini dinilai masih menumpuk secara eksklusif di Pulau Jawa. Ia mengusulkan pengembangan layar lebar berbiaya murah yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, dengan mengadopsi model pemerataan distribusi film yang sukses diterapkan di Korea Selatan.
"Kita berharap walaupun tidak dengan biaya yang tinggi, layar-layar lebar yang lebih sederhana ini juga banyak dikembangkan di berbagai daerah. Akses dan distribusi film nasional harus bisa meliputi seluruh potensi yang lahir di Nusantara tanpa terpusat di satu pulau saja," tegasnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa industri film memiliki kapasitas terukur untuk membangun narasi kebangsaan dan membangkitkan rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Politisi Fraksi PKS ini mendorong para sineas lokal untuk secara konsisten mengangkat kisah tokoh pahlawan nasional demi memperkuat identitas negara tanpa bergantung pada formula produksi asing. (ysw/rdn)